Pertama kali kenal Hanif, sapaan akrabnya, saat berkuliah di Univeristas Gadjah Mada. Awalnya tak ada hal yang membuat saya terkejut tentang ia. Seperti mahasiswa pada umumnya. Sampai tiba suatu momen di kelas, ketika dalam sebuah diskusi ia menyatakan dengan tegas dan meminta maaf jika saat berbicara kurang baik. Bukan karena ia tak memiliki gagasan kritis ataupun inovatif, ia hanya berbeda dari yang lain. Ia mengakui dengan lantang bahwa ia seorang difabel. Bagi saya, berinteraksi langsung dengan seorang difabel dalam suatu lingkungan akademik adalah hal baru. Di keseharian pun, saya tidak memiliki teman difabel, kecuali Hanif. Yang nantinya, ialah salah satu orang yang mengubah persepsi saya tentang bagaimana menjalami hidup dengan adil.

Berbagi cerita ke publik tentang sosok tertentu yang saya anggap sebagai refleksi diri adalah hal yang jarang saya lakukan. Biasanya hanya sekader melihat, membaca tanpa sekalipun memberikan apresiasi baik secara lisan ataupun tulisan. Kali ini rasanya cukup spesial. Hanif bukanlah sosok yang berdiam diri dengan keadaanya. Bukan juga yang menyalahkan keadaan tanpa berbuat. Ia adalah dia dengan beribu pengalaman yang membentuknya.

Untuk pembaca di luar sana, tentu saja penasaran siapa sih sebenarnya hanif ini. Ingin tahu ia lebih jauh? Boleh sekiranya menyimak rangkuman singkat saya tentang sosok Mukhanif  Yasin Yusuf, yang konon dapat mendorong gejolak energi positif untuk berterima kasih terhadap hidup.

1. Pejuang Pendidikan yang Menempuh S1-S2 di UGM

UGM, Salah Satu Kampus Terbaik di Indonesia ( via www.ugm.ac.id )

Ngomongin soal UGM, pasti ada saja yang minder untuk bahkan sekedar mengalihkan minatnya untuk mendaftar sebagai mahasiswa. Label berkelas dan elit bagi sebagian pihak menjadi pikiran awam yang seringkali membuat angan-angan untuk menempuh studi di salah satu universitas yang masuk ke dalam peringkat 1001+ dunia versi The Times Higher Education (THE) 2020, menjadi ciut.

Beda halnya dengan Mukhanif Yasin Yusuf, pria kelahiran Purbalingga 11 November ini, memandang UGM bukanlah penghalang untuk ia meraih pendidikan yang setara dan adil. Ia terdaftar sebagai mahasiswa S1 Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada Tahun 2011. Stigma yang melekat pada difabel perlahan diretas oleh Mukhanif dengan menunjukkan eksistensinya di dunia pendidikan.

Ia meyakini bahwa dengan pendidikan segalanya menjadi mungkin. Namun, Menjadi seorang mahasiswa tidak sekedar menghadiri kelas saja, ia menghadapi berbagai macam tantangan yang tak kalah peliknya di hadapi mahasiswa lainnya. Misalnya saja diskriminasi dan marginalisasi yang dialami terhadap kaum difabel sering kali dialamatkan juga padanya. Terlahir berbeda bukanlah tembok yang tak bisa dilampaui. Dua tahun setelah bergelut sebagai mahasiswa di FIB UGM, ia merasa terdorong untuk bergerak lebih jauh. Sekali lagi ia menunjukkan bahwa keterbatasan hanyalah alasan untuk orang tak ingin berusaha.

Keyakinan itu menguatkan suara lantangnya untuk menyuarakan dan menegaskan posisinya sebagai pihak yang perlu menjembatani difabel untuk berpartisipasi lebih dan terlepas dari stigma serta mengadvokasi suara difabel di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Tahun 2013, ia merintis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel bersama teman-temannya. Ia gerah dengan labirin diskriminatif yang tak kunjung usai.

Lulus dengan peringkat terpuji alias cumlaude dari Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, tidak membuatnya berhenti untuk membentangkan sayapnya. Ia berhasil memperoloh beasiswa prestisius Indonesia, LPDP. Ayo, yang tidak pangling melihat Hanif. Ia melanjutkan studi S2 di prodi Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada. Keakrabannya dengan UGM membuatnya seolah menjadi satu dengan semangat UGM, yaitu Locally Rooted, Globally Respected. Sebagai lulusan Ilmu Sastra UGM, ia tidak saja melahirkan karya-karya yang non-fiksi, melainkan fiksi. Untuk tahu lebih jauh tentang karya-karya Mukhnaif, ayuk kita simak fakta lainnya tentang Mukhanif.

2. Penulis Berbakat

Hanif, Di antara Para Peneliti dari Berbagai Negara saat di Thailand ( dok. pribadi )

Bakat menulisnya tidak lahir begitu saja, pergelutannya dengan dunia tulisan pada dasarnya merupakan antiklimaks dari kondisi yang dialami Mukhanif sebagai difabel. Ketika suara tak mampu menyapa pendengar, gunakanlah kata-kata. Ia betul-betul mengekspresikan pikirannya melalui tulisan. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya anak pertama buah persengamaannya dengan realitas, Jejak Pejalan Sunyi. Diterbitkan oleh Grasindo tahun 2014, buku ini merupakan karya pertama Hanif yang menceritakan tentang lika-liku kehidupannya sebagai difabel rungu.

“Tersebab Sunyi, lahirlah Harapan demi Harapan”. Kutipan ini, bagi kalangan masyarakat pada umumnya, sunyi hanyalah sekedar keadaan tanpa suara. Namun, bagi Hanif sunyi adalah jalan hidupnya, yang ia alami sejak berusia 11 tahun. Pendengaran yang direnggut malah melahirkan harapan demi harapan. Ia tidak berhenti pada satu titik. Ia melangkah lebih dari sekedar titik.

Menancapkan jari pada kepenulisan akademik, adalah langkah yang ditempuhnya untuk merawat nalar. Analisis akademiknya  terhadap novel Biola Tak Berdawai mengantarkan tulisannya terbit di Inklusi, Journal of Disablity Studies, Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Analisisnya yang kritis menguak fakta tentang stigma negatif tentang difabel di dalam karya sastra, merupakan upayanya untuk melahirkan harapan bagi penyandang difabel dan masyarakat umum untuk melek terhadap stigmatisasi ini. Tulisannya juga beberapa kali dibawa di konferensi, baik nasional maupun internasional.

Melalui tulisan-tulisannya, ia berharap setiap orang dapat peka terhadap realitas, baik difabel ataupun kalangan marginal lainnya. Memang persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan tulisan. Namun, Hanif bukanlah individu yang berhenti hanya pada tataran konsep. Ia menunjukkan bahwa difabel pun bisa.

3. Aktivis Peduli difabel

Hanif saat Berbicara di Forum Terkait Isu Difabel ( dok. pribadi )

Stigmatiasi pada difabel yang sering kali mengecilkan ruang gerak mereka tidak berlaku sama sekali untuk Hanif. Ia melompati batas yang bahkan orang-orang kebanyakan tidak lakukan. Selain aktif menulis, ia terjun langsung untuk berperan dalam menyuarakan suara difabel. Ia mungkin tak sekuat Superman, pun kakinya tak secepat Usain Bolt, Pelari Jamaika, pemegang rekor dunia lari 100 meter. Namun, ia menjadi cahaya, yang menerangi kelamnya stigma pada difabel.

Ia bagai hacker yang meretas kemapanan sistem mayoritas. Setelah merintis UKM Peduli Difabel UGM tahun 2013, ia turut andil dalam advokasi melalui UKM tersebut. Ia menyuarakan diskriminasi difabel pada SNMPTN 2014. Pelarangan difabel mengikuti SNMPTN 2014, merupakan bentuk nyata bagaimana institusi penyelenggara pendidikan menghalangi setiap warga negara untuk memperolah pendidikan yang adil.

Jangan kaget, jika pada seleksi sekelas LPDP pun “dilibas” oleh Mukhanif. Ia merupakan sosok yang memperjuangkan hadirnya Beasiswa Afirmasi Disabilitas. Beasiswa dari LPDP yang memang diperuntukkan bagi teman-teman difabel untuk dapat mendapatkan pendidikan yang layak dan bebas diskriminasi.

Tidak hanya itu, di tahun 2019 ia pun menggugat persyaratan diskrimintaif terhadap difabel dalam CPNS. Sebagai salah satu pendaftar CPNS 2019, Mukhanif memang bukanlah sosok yang dirugikan pada kebijakan ini karena formasi yang ia daftar memberikan formasi khusus bagi difabel. Tapi, bagi sebagian besar difabel, hal ini sangat merugikan. Institusi yang seharusnya membuka kesempatan yang setara bagi seluruh warga negara menjadi momok menakutkan bagi difabel. Berkat perjuangannya melalui petisi online, change.org, ia mendapat dukungan 1.895 orang untuk memenangkan situasi ini. Setelah merilis petisi sejak 14 november 2019, pada 5 desember 2019, perjuangannya membuahkan hasil. Kementerian Pendayahunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) merilis surat edaran yang meminta Kemenetrian/Lembaga/Instansi menghapus syarat diskriminatif tersebut.

Jadi intinya, bukankah kita diciptakan untuk hadir dalam berbagai kesempatan agar berguna bagi orang lain. Apa pun identitas yang melekat atau dilekatkan, itu bukanlah soal. Yang jadi soal adalah ketika tidak melakukan apa pun, lantas protes karena keadaan tidak berpihak.

Be like Hanif, gaes!!!

4. Peraih 3 Beasiswa Prestisius

Saat Menempuh Short Course Australia Awards Scholarhip ( dok. pribadi )

Kalian tentu tidak menyangka jika perjuangan Hanif sanggup mengantarkannya pada penerima 3 beasiswa. Ya, awalnya saya pun demikian. Namun, ketika profilnya terpampang jelas di layer LCD kala itu. Saya takjub. Bukannya minder, malah saya terharu. Awamnya beasiswa hanyalah untuk kalangan tertentu yang memiliki akses terhadap pendidikan, informasi, dll. Namun, Hanif menunjukkan bahwa dengan kerja keras semuanya menjadi mungkin. Ia adalah penerima beasiswa Bidikmisi tahun 2011-2015, LPDP tahun 2016-2018 dan Australia Awards Scholarship, Short Term Awards.

Mukhanif bisa menjadi sosok inspiratif bagi difabel maupun non-difabel untuk tetap berjuang meraih mimpi. Yang selama ini mungkin masih sekedar bunga tidur atau sekedar angan-angan. Segera bangun, bangkit, dan raihlah dengan senyuman!

5. Founder difapedia.com

Difapedia, Media Kampanye Isu Difabel yang Menyasar Kelompok Milenial ( via www.difapedia.com )

Saat menempuh studi Magister Sastra UGM 2016-2018, ia juga sudah aktif di Lembaga Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA). Nampaknya tidak ada kata berhenti untuk Hanif. Cita-cita inklusivitas telah menjadi darah dagingnya. Nafasnya memburu ketika tahu masih ada diskriminasi di tengah-tengah masyarakat. Hingga otaknya melahirkan difapedia..

Di saat media komunikasi digital berkembang pesat, jari-jarinya tak berhenti untuk bergerak bersamaan dengan pikirannya. Lahirnya difapedia di akhir tahun 2019 yang sedang kamu baca ini. Ia merupakan jembatan baru bagi suara difabel untuk dipublikasikan. Rencana tak sekedar wacana, ia digagas dari wacana hingga menjadi realitas. Portal digital bagi mahasiswa, akademisi, praktisi, dan umum untuk menyampaikan cerita tentang difabel yang secara khusus lebih diarahkan menyasar generasi milenial sebagai target jangka panjang. Mengurai realitas dalam tulisan adalah salah satu bukti konsistensi Hanif dalam mengukir kisah cinta dan komitmennya terhadap Indonesia yang inklusif.