Siapa sih yang nggak pingin mencintai dan dicintai, guys? Tentunya semua orang menginginkannya. Bahkan, saking terobsesi pada sakralnya sebuah cinta ia memunculkan banyak tokoh sebagai representasi perjuangan ketulusan, dan keikhlasan diorama cinta. Maka lahirlah jalinann kisah romantis antara Romeo-juliet, Laila-Majnun, Rama-Sinta, dan masih banyak lagi. Lalu bagaimanakah dengan seorang difabel? Apakah mereka layak untuk dicintai dan mencintai?

Cinta adalah Anugrah, Ia Diciptakan untuk Siapapun

Cinta adalah universal. Cinta diberikan kepada siapapun yang berkeinginan menanam benih-benihnya. Ia akan tumbuh subur bagi siapapun yang merawatnya. Tidak terkecuali bagi difabel. Difabel pun dapat menaburkan benih-benih cinta. Merawatnya. Memanennya. Cinta tidak sebatas untuk mereka yang selama ini ditakdirkan “sempurna” secara fisik. Cinta adalah fitrah. Ia dianugerahkan kepada siapapun. J

Cinta adalah Masalah hati, Difabel dapat “Jatuh” pada Siapapun

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, siapa yang menanam benih-benih cinta dan merawatnya, ia akan menanamnya. Tidak hanya sesama difabel saja lho. Di luar sana tidak sedikit difabel yang membangun mahligai cinta dengan yang non-difabel. Ya, karena cinta dapat “jatuh” kepada siapapun. Meskipun kita tak pernah menduganya. Ketikau kau sudah jatuh cinta, maka kau dapat jatuh yang sejatuhnya,,

Terkadang Cinta Sulit Didefinisikan, Tapi dapat Dirasakan dan Dilalui dengan Cara Berbeda

Tidak sedikit lho yang penasaran bagaimana seorang difabel ini membangun cinta? Bukannya mereka selama ini dianggap memilki keterbatasan fisik. Pasangan sesama difabel netra, difabel daksa, difabel rungu, dan lainnya, apakah tidak kesusahan dalam membangun cinta di antara mereka. Atau pasangan antara difabel dengan non-difabel, bagaimanakah caranya membahasakan cinta diantara mereka yang berbeda?

Gak terlalu susah juga ternyata, guys. Meski tantangannya besar, sudah cukup banyak sesama difabel maupun non-difabel membangun cinta mereka. Bahkan, sudah tidak sedikit yang memiliki anak-cucu. Mereka hanya memerlukan cara yang berbeda. Dalam membahasakan cinta. Menangkap getaran cinta. Dan tentunya cara yang berbeda dalam menyambut cinta.

Selain itu, Terkadang Cinta Tidak Membutuhkan Alasan. Ia Hanya Dipertemukan Dalam Satu Titik yang Sama.

Seringkali kita ditanya, mengapa kamu bisa jatuh cinta sama doi? Tidak jarang kamu akan susah menemukan alasannya. Terlebih bagi cewek yang tidak sedikit lebih mengedepankan perasaan daripada logika.

Itulah esensinya. Cinta terkadang susah menemukan alasannya. Ia tiba-tiba hadir begitu saja. Tanpa komando. Tanpa aba-aba. Tetapi, bukan berarti dalam membangun cinta tidak ada pondasi yang melatarbelakanginya. Ia adalah rasa. Hati yang dipertemukan dalam satu ruang yang sama. Membangun sbuah ruang. Ruangan cinta.

Ruh dari Cinta adalah Ketulusan dan Keikhlasan

Menjadi difabel tantangannya cukup berat, terlebih di Indonesia yang masih lekat dan stigma negatif dan diskriminasi. Namun, bukan kapasitas fisik yang menjadi ruh cinta. Ketulusan dalam menjalaninya. Keikhlasaan dalam menerima. Itulah yang menjadi modal utama untuk membangun cinta.

Masih ragukah bahwa difabel berhak untuk dicintai dan mencitai?