Langit tidak mewartakan sesuatu yang senantiasa sama, guys. Kadang mendung. Kadang terang. Kadang gerimis. Kadang hujan. Begitu juga dengan manusia. Ia tidak akan pernah sama antara satu dengan yang lainnya. Karena setiap manusia diciptakan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Begitu juga dengan difabel yang selama ini banyak distigma negatif. Berada dalam bayang-bayang diskriminasi.

Difabel adalah Kemampuan Berbeda

Kemampuan Berbeda ( via www.kumparan.com )

Seringkali kita mendapati sahabat yang kita sebut sebagai difabel ini mendapatkan bullying dan labelling. Sebuah tindakan yang berawal dari pemahaman salah kaprah terhadap difabel. Difabel selama ini lebih banyak dikonstruksikan sebagai individu yang “cacat”, “tidak normal’, “tidak sempurna”, “tidak sehat”, dan sejenisnya

Kenyataannya, menjadi difabel adalah kemampuan berbeda. Seorang difabel rungu, ia tidak dapat menyerap informasi dengan pendengaran. Namun, mereka dapat menyerap informasi lewat penglihatan mereka. Seorang difabel netra tidak bisa menggunakan mata untuk menangkap sesuatu, tetai ia dapat menangkap sesuatu dengan indera pendengarannya dan indera perabaannya. Pada intinya, setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda. Itulah kenapa difabel identik dengan akronim dari diferently ability people: difable.

Setiap Manusia Bisa Saja Menjadi Difabel

Difabel Bisa Menimpa Siapapun ( via www.toughtcatalog.com )

Tanpa kita sadari orang yang selama ini kita sebut “normal” dan “sempurna” bisa saja sebagai seorang difabel. Orang yang selama ini memakai kacamata kemampuan melihatnya akan berkurang, jika kacamatanya dilepas. Untuk membaca dan melihat dengan jelas, ia membutuhkan fasilitas sesuai kebutuhannya, yakni kacamata. Tanpa kacamata, hal tersebut akan menjadi hambatan baginya.

Itulah esensi difabel, guys. Difabel ada karena adanya hambatan. Dan ketika hambatan itu sudah difasilitasi sesuai dengan kebutuhannya maka ia akan melakukan aktifitas seperti biasanya. Difabel rungu membutuhkan sesuatu yang berbasis visual, baik itu teks, bahasa isyarat, maupun lips reading (membaca gerakan bibir). Begitu juga dengan difabel lainnya, guys.

Setiap Manusia Memiliki Kelebihan dan Kekurangan

Difabel Tetap Berkarya ( via www.solider.id )

Setiap manusia pada dasarnya dianugrahi Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Hanya Tuhan-lah yang Maha Sempurna, guys.

Tugas Manusia Memaksimalkan Kelebihan, Meminimalkan Kekurangan

Memaksimalkan Kelebihan ( via www.tempo.co )

Sebagai hakikat manusia yang tidak sempurna. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ia memiliki tugas untuk memaksimalkan kelebihannya. Misalnya, Difabel netra akan memanfaatkan pendengarannya yang seringkali daya dengar dan daya ingatnya melebihi dari yang non-difabel netra.

Namun, Masih banyak Difabel yang Menghadapi Stigma Negatif dan Diskriminasi

Perjalanan Difabel ( via www.ayosemarang.com )

Kita seringkali menemukan cukup banyak difabel yang mendapatkan stigma negatif dari lingkungannya, mulai dari olok-olok, cemohan, hinaan, hingga judgement sebagai sosok yang tidak bisa mandiri dan harus dikasihani. Bukan begitu seharusnya, guys.

Stigma negatif ini melahirkan diskriminasi agi difabel. Mulai dari ditolak masuk sekolah, lingkungan kerja, hingga lingkungan masyarakat. Kemarin juga sempat ramai diskriminasi terhadap difabel dalam rekrutmen CPNS 2019, guys. Tapi, alhamdulillah, pemerintah akhirnya menghapusnya. Ke depan mari sobat doakan semoga stigma negatif dan diskriminasi dihanguskan dari bumi pertiwi. 🙂

Pada Hakikatnya Tuhan Menciptakan Manusia dalam Bentuk yang Sempurna

Stephen Hawking, Ilmuwan Terkemuka ( via www.liputan6.com )

Ini yang penting, guys. Pada hakikatnya, Tuhan sebagai Maha Sempurna tidak akan pernah menciptakan ‘produk” yang “gagal” atau dengan kata lain “tidak sempurna”. Jika Tuhan menciptakan produk yang tidak sempurna, maka kita sama saja melecehkan Tuhan sebagai Sang Maha Pencita Yang Sempurna.