Fahmi Husein memiliki kelainan Duchene Muscular Dystrophy. Suatu kondisi dimana yang menyebabkan sebagian besar fisiknya lumpuh. Secara umum, ia dikategorikan sebagai difabel daksa. Meskipun demikian, ia tidak pernah mengeluh terhadap kondisinya.

Sebagai buktinya, ia berhasil lulus di salah satu kampus terbaik di Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Tidak hanya itu, ia merupakan mahasiswa berprestasi di UGM. Lewat keahliannya dalam hal desain dan robotika ia beberapakali meraih medali emas di PIMNAS, medali emas di Korea, dan beberapa medali di berbagai kejuaraan lainnya.

Baginya, hidup harus bahagia. Hidup adalah sebuah perayaan. Ia senantiasa dilalui dengan sukacita. Tak ada kesedihan. Tak ada kekalahan. Sekalipun ia harus selalu duduk di kursi roda. Bahkan, untuk memindahkan posisi dua kakinya ia harus dibantu orang lain. Kekurangan tersebutlah yang dimanfaatkan oleh Fahmi sebagai tantangan yang harus dipecahkan. Kepada difapedia, ia membagikan beberapa kiat-kiat dia selalu optimis dalam menajalani hidup.

1. Apa yang Dialami adalah Bagian dari Belajar Tentang Hidup

Bagian dari Pembelajaran Hidup ( dok. pribadi )

Bagi Fahmi, kondisinya yang berbeda dari yang lain adalah Sebuah ujian dari Allah SWT. Kondisinya membuatnya mulai tahu arti tentang kehidupan. Ia mengajarkan mengapa dirinya masih dikaruniai hidup.

2. Hidup adalah sebuah pilihan, Make it Fun or Make it Worse

Tetap Tersenyum, Make it Fun! ( (dok. pribadi )

Bagi Fahmi takdir yang sudah ada tidak bisa diubah. Ia hanya ada 2 pilihan, Make it Fun or Make it Worse. Tentunya ia  memilih Make it Fun! Fahmi pikir akan sia-sia menyesali semua yang terjadi. Tentu saja berbuat semaksimal mungkin adalah jalan terbaik.

Baca Juga: Bunda Anik Mawarti Membesarkan Kedua Anaknya yang Difabel; Anak adalah Anugerah, Biarkan Mereka Menikmati Hidup

3. Support dari Orang Tua

Dukungan Orang Tua Di manapun dan Kapanpun ( dok. pribadi )

Peran orang tua bagi Fahmi tak kalah penting.  Ia merasakan bagaimana orang tuanya tidak membedakan dengan orang yang selama ini dianggap “normal”. Orang tua Fahmi juga selalu men-support untuk melakukan kegiatan positif. Ia mengisinya dengan berkarya.

3. Optimislah! Lakukan Kegiatan Positif, Berkarya Sesuai Passion

Optimislah! ( via www.kordanews.com )

Optimis, banyak melakukan kegiatan positif dan mengikuti passion untuk berkarya. Dengan berkarya justru akan menemukan kekuatan lebih besar lagi. Berkarya membuatku dilihat karena prestasi atau karya, bukan karena difabel. Berawal mengikuti sebuah kompetisi pertama kali tahun 2010 dan menjadi finalis, ia meneruskan hobinya utk berkarya, yakni yang berkaitan dengan desain, robotika, dan elektronika. Hal tersebut pulalah yang mengantarkannya kuliah di UGM, tepatnya di Prodi Teknik Elektro dan Informatika. Jika memiliki passion bidang seni, lakukanlah! Jika memiliki passion di bidang robotika, lakukanlah! Begitu juga passionpassion yang lain.

Baca Juga: 5 Hal tentang Mukhanif Yasin Yusuf, Pejuang Difabel, yang Harus Kamu Tahu

4. Fahmi Menciptakan Produk yang Berawal dari Lingkungan Sekitarnya

Aveo, Salah Satu Karya Fahmi ( via www.ugm.ac.id )

Dibalik kekurangan, pasti memiliki kelebihan. Itulah yang Fahmi pegang. Ia menjadikan kekurangannya sebagai sebuah tantangan yang harus dipecahkan. Untuk itulah beberapa produk yang dibuat, misalnya sepatu Aveo, memiliki fungsi sebagai alat terapi elektronik yang ia gerakan dengan smartphone. Produk buatannya itulah yang mengantarkan ia menjuarai berbagai ajang, baik dalam skala nasional maupun internasional.

5. Hargailah Sebuah Proses

Menghargai Sebuah Proses ( via www.okezone.com )

Fahmi menyadari bahwa semua hal tentang hidup  tidak ada yang instan. Ia akan melewati sebuah proses. Ia mengaku sangat drop ketika harus berkursi roda pada saat kelas tujuh SMP dikarenakan kondisi kelainannya bertambah parah. Saat mengikuti kompetisi pertamanya, Indonesia ICT Award 2010, ia berhasil menjadi finalis. Kompetisi pertama tersebut yang membuat cara pandangnya berubah. Hal ini mengajarkan kepada kita, bahwa tidak ada sebuah proses yang instan. Baik dalam hal penerimaan kondisi maupun dalam upaya mewujudkan sebuah prestasi.

6. Setiap Manusia Memiliki Kesempatan Sama

Setiap Manusia Memiliki Pada Dasarnya Kesempatan yang Sama ( via www.humandynamics.org )

Setelah cara pandang terhadap dirinya berubah, Fahmi merasa semua manusia punya kesempatan yang sama. Tidak peduli kondisinya sebagai difabel. Difabel dan non-difabel adalah bagian dari diversity yang memang pada dasarnya setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda.

Oh iya, Fahmi juga sangat berharap semakin banyak difabel, juga dirinya, yang dapat mencapai dan mewujudkan  mimpinya. Ia memiliki niat mulia mencoba untuk bermanfaat bagi orang lain dengan karya yang telah dibuat.