Membicarakan perempuan di periode sekarang, bukan lagi sebatas perannya sebagai ibu rumah tangga. Ia sanggup menembus sekat-sekat yang ada. Perempuan yang bekerja di sektor publik, mulai terlihat cukup berkembang akhir-akhir ini.

Meskipun demikian, perempuan difabel masih belum cukup banyak yang menonjol ke permukaan. Perempuan difabel masih berada dalam bayang-bayang yang terpinggirkan dari ruang-ruang publik.Terlebih pada Difabel Rungu yang selama ini mengalami keterbatasan dalam hal jangkauan literasi. Dari jumlah yang nggak seberapa tersebut, ada beberapa perempuan difabel rungu yang dapat diacungi jempol dalam usaha melawan budaya patriarkhi yang difapedia lansir dari berbagai sumber.

Sehubungan dengan Hari Perempuan Internasional sekaligus Hari Kesehatan Pendengaran Dunia, Yuk, kita simak rangkumannya….

1. Juliette Gordon Low

https://deni-j8czpyf.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2017/03/banner_low.jpg
Julliete Gordon Low, Sosok Di Balik Girl Scouts America ( via www.deafniche.com )

Gordon Low merupakan pendiri Girl Scouts of America pada tahun 1912. Tujuannya mendirikan Girl Scouts adalah untuk menciptakan lingkungan yang inclusive bagi perempuan muda untuk mempelajari tentang srurvival, teamwork dan goal setting. Girl Scouts menjadi organisasi pertama yang mencoba mendobrak rasisme dan diskriminasi bagi difabel.

2. Teresa de Cartagena

https://deni-j8czpyf.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2017/03/banner_teresa.jpg
Teresa de Cartagena, Difabel yang Juga Biarawati dan Penulis Feminis ( via www.theconversation.com )

De Cartagena lahir di Spanyol pada tahun 1453. Ia mengalami Difabel Rungu saat usia 30 tahun. Dia menulis secara mendalam kondisi intelektualnya sejak mengalami difabel rungu. Dia menulis hal tersebut sebagai bagian dari meditasi dan upaya untuk memperdulikan kondisinya dari lingkungan sekitarnya. Setelah mengkritik posisi perempuan, ia menulis esai kedua terkait inelektualisme perempuan dan membuktikan bahwa kritiknya adalah salah. Hingga hari ini ia dikenal sebagai penulis feminis pertama di Spanyol.

3. Charlotte Elizabeth Tonna

https://deni-j8czpyf.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2017/03/banner_charlotte.jpg
Tonna, Sastrawan Terekemuka Inggris pada masanya ( via www.deafniche.com )

Tonnal dikenal sebagai pengarang novel dan puisi di Inggris. Mempublikasikan karyanya “Carlotte Elizabeth” pada tahun 1840. Dia mengalami difabel rungu sejak usia 10 tahun. Selain itu, Tonna juga menulis isu hak asasi perempuan dan sosial. Hingga hari ini, ia dikenal sebagai salah satu penulis terbaik dalam sejarah Inggris pada masanya.

4. Ruth Benedict

https://deni-j8czpyf.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2017/03/banner_benedict.jpg
Ruth Benedict, Salah Satu Antropolgist yang Memberikan Sumbangsih bagi Manusia ( via www.theniche.com )

Bennedict adalah perempuan pertama yang memimpin organisasi ilmuwan antropologi di AS, The American Anthropolofgical Association, pada tahun 1930. Dia mengubah arah studi antropologi dengan mendesak para antropolog untuk melihat cerita rakyat dan budaya sebagai bagian di dalamnya, bukannya sebagai entitas yang terpisah. Benediktus juga penulis buku yang terkenal di dunia, “Patterns of Culture” di mana ia menekankan bahwa budaya hanyalah pola pikir dan tindakan yang konsisten, oleh karena itu studi tentang cerita rakyat merupakan bagian dari studi budaya (cultural studies)

5. Annie Jump Cannon

https://deni-j8czpyf.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2017/03/banner_cannon.jpg
Annie Jump Cannon, Perempuan Difabel Rungu yang Berperan Besar dalam Klasifikasi Bintang ( via www.toughtco.com )

Cannon menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai difabel rungu. Oleh karena itu, banyak yang percaya bahwa keterasingannya membuatnya tertarik untuk mempelajari Astronomi. Ia belajar matematika, biologi, fisika dan astronomi pada Wellesley College tahun 1922. Pada saat kelulusannya, fotografi baru saja ditemukan dan dia menggunakan fotografi pada pengambilan foto pada bintang-bintang. Hingga saat itu belum ada sistem klasifikasi bintang, hingga ia meluncurkan Harvard Classification Scheme. Hingga hari ini, sistem klasifikasi rancangan Canon masih digunakan para astronom.

6. Julia Brace, 7. Laura Bridgman, and 8. Helen Keller

https://deni-j8czpyf.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2017/03/banner_brace-brig-kell.jpg
Tiga Serangkai Difabel Rungu-Netra sebagai Pelopor Bahasa Isyarat Taktil ( via www.deafniche.com )

Ketiganya merupakan perempuan yang berlatar belakang sama, yakni difabel rungu sekaligus netra, yang mana ketiganya saling berkaitan. Ketiganya merupakan difabel rungu-netra yang sanggup mencapai tingkat pendidikan yang mumpuni.Julia Brice dipandang sebagai pihak yang pertama kali menggunakan bahasa isyarat taktil, yakni berbasis sentuhan atau perabaan tangan.

Laura Bridgman adalah orang yang mengajari bahasa Isyarat Taktil kepada Anne Sulivan yang di kemudian hari Anne Sullivan mengajarkan pada Helen Keller. Ibu Helen Keller setelah membaca tentang Laura Bridgman membawa anaknya ke Perkins School, tempat di mana terdapat Anne Sullivan. Helen Keller tumbuh menjadi pribadi yang memiliki otak cemerlang, yang mana berhasil menembus Harvard. Keller banyak menulis tentang hak-hak asasi manusia dan inklusi sosial bagi difabel. Selain memberikan kuliah di berbagai negara, Keller juga terkenal lewat bukunya The Story of My Life.

9. Gertrude Ederle

Ederle, Sosok Perempuan Difabel yang Memecah Rekor Dunia dalam Olahraga Renang ( via www.deafniche.com )

Memiliki julukan “The Queen of Waves”, dia adalah perempuan pertama yang menyeberangi Selat Inggris. Dia mencetak rekor pada tahun 1911 dengan durasi waktu 14 jam 34 menit untuk jarak sejauh 22 mile di dalam air. Kondisi Selat Inggris yang ekstrim karena mengalami pasang-surut tiap 6 jam membuat selat ini termasuk yang sulit dan ekstrim di dunia. Ia merupakan peraih International Swimming Hall of Fame pada tahun 1965.

10. Regina Olson Hughes

https://deni-j8czpyf.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2017/03/banner_hughes.jpg
Regina Hughes, Perempuan Difabel yang Memiliki Sumbangsih Besar dalam Ilmu Botani ( via www.deafniche.com )

Hughes adalah Illustrator Ilmiah Amerika dari seni botani atau tumbuhan. Sebelum bekerja untuk pemerintah sebagai ilustrator resmi, ia bertugas dalam Perang Dunia I sebagai penerjemah; dia fasih dalam empat bahasa: Prancis, Italia, Portugis, dan Spanyol. Tahun 1936 ia kembali melanjutkan pekerjaannya untuk pemerintah, hanya kali ini sebagai ilustrator ilmiah untuk Departemen Pertanian. Untuk menjadi ilustrator ilmiah, Hughes harus memiliki pengetahuan yang rumit tentang bagian-bagian berbeda dari masing-masing tumbuhan dan dapat mereplikasi secara artistik dan rinci lengkap dengan deskripsi tertulis. Secara total, lebih dari 6.000 gambarnya ada dalam handbook terbitan Departemen Pertanian AS (USDA).

Dia adalah seniman difabel rungu pertama yang mengadakan pameran tunggal di Museum Smithsonian di Washington, D.C. pada tahun 1982. Sebanyak 40 anggreknya yang dilukis dengan cat air dipajang untuk pameran, yang masih dapat dilihat hari ini di museum. Untuk menghormati jasa dan prestasinya, sebuah spesies baru dari Bromeliad yang ditemukan pada tahun 1979 dinamai sesuai dengan namanya: Billbergia Regina dan spesies daisy: Hughesia.

11. Agkie Yudistia

Angkie Yudistia, Difabel Rungu dari Indonesia ( via www.tirto.id )

Terakhir adalah perempuan tangguh dari Indonesia, yakni Angkie Yudistia. Angkie merupakan difabel rungu sejak anak-anak. Ia masih menggunakan alat bantu dengar dan lips reading dalam kesehariannya. Pendiri Thisable Enterprise ini menduduki posisi sebagai Staf Khusus Presiden. Ia mencatatkan diri sebagai perempuan dengan difabel pertama yang berada di KSP.

Selain sebelas perempuan hebat di atas, tentunya masih banyak perempuan lain yang mampu menembus sekat-sekat yang selama ini didominasi laki-laki. Meskpiun demikian, membutuhkan perjuangan panjang bagi difabel untuk memutus mata rantai diskriminasi di masyarakat.

Salam Inklusif!