Prof. Iwan Dwiprahasto sudah berpulang. Namun jasanya akan selalu dikenang. Terlebih dalam kaitannya dengan mewujudkan UGM agar lebih inklusif kepada difabel. Saya sebagai difabel daksa atas (pada kedua tangan) adalah saksi atas semua itu. Kita harus yakin bahwa kepergian beliau nggak membuat semangat kita pudar. Justru adalah tantangan untuk meneruskan cita-cita beliau, yakni menjadikan UGM sebagai kampus inklusi.

Dalam suatu kesempatan berdialog dengan beliau, hari itu nggak sekadar sebagai hubungan antara mahasiswa dengan dosen. Bukan pula sekadar antara mahasiswa dengan birokrasi kampus. Mengingat pada saat itu Prof Iwan menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Beliau menempatkan dalam posisi yang setara. Sama-sama hamba di mata Tuhan, sekalipun saya seorang difabel.

Mungkin ada satu-dua kalimat yang nggak mampu saya ingat secara persis, tetapi saya coba mengingat kembali dan menuliskannya. Untuk menjadi salah satu sumber keteladanan bagi kita semua, dears..

Kita, Setara sebagai Manusia

Prof Iwan Berdialog dengan Penulis ( dok. pribadi)

Kami kadang suka berdiskusi. Nggak jarang saya berkunjung ke ruangan beliau saat masih menjabat sebagai Wakil Rektor. Kalau beliau sibuk, paling saya cuman mengganggu Mbak Restu, sekretaris Prof Iwan, yang sudah pasti hafal jadwal beliau.

“Kamu tahu, kenapa kita harus bersyukur? Ingat ya, saya menggunakan kata “kita” bukan mas saja.”

Saya jawab, “Baik, Prof.” Kemudian beliau menjelaskan nasehat yang begitu bermakna, salah satu dari sekian sharing atau obrolan yang nggak akan terlupakan.

Nikmat Tuhan Begitu Panjang

Bersyukur ( via www.steemit.com )

“Tuhan memberikan nikmat kepada hamba-Nya begitu panjang (sambil beliau membentangkan kedua tangannya, kanan dan kiri, seolah membentangkan sebuah garis). Kita hidup, kita bernafas, kita bertemu, banyak sekali.”

Setiap Titik Nikmat Terdapat Ujian

Selalu ada Ujian Diantara Nikmat ( dok. pribadi )

“Diantara nikmat yang tak terhingga ini, Tuhan memberikan titik yang dinamakan ujian (tangan kanan beliau membentuk titik di antara garis tadi). Ujian itu, mas, diberikan saking sayangnya Tuhan kepada hamba-Nya.”

Ujian Dihadirkan Agar Manusia Senantiasa Kuat

Jadilah Manusia yang Kuat! ( dok. pribadi )

“Tuhan memberikan ujian kepada hamba-Nya, karena ingin hamba-Nya menjadi manusia yang kuat. Kalau kita bersyukur, maka kita menjadi kuat dalam menghadapi ujian. Hidup akan menjadi begitu indah.”

Sayangnya, Nggak Sedikit yang Lalai

Tetap Luruslah ( via www.farah.id )

“Namun, sayangnya, kita suka lalai saat diberi ujian. Kita lupa, bahwa nikmat Tuhan itu begitu banyak. Diberi ujian sedikit, ngeluh yang tidak-tidak, sehingga kita menjadi tidak pandai bersyukur. Jangan sampai ini terjadi pada diri kita.”

Terakhir bertemu saat saya selesai S1. Saya mengucapkan banyak terima kasih, sekaligus mohon maaf atas banyak salah saya. Saya bilang, takutnya ini terakhir kali saya bertemu beliau. Jujur, nggak nyangka, karena saya paham beliau pasti sibuk. Di saat itulah beliau memberi saran agar saya melanjutkan lagi S2 di UGM.

Selamat Jalan Prof Iwan..

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Semoga husnul khatimah, aamiin.

*Mengingat cukup besar jasa beliau dalam mewujudkan UGM sebagai kampus inklusi. Difapedia akan menyajikan tulisan berseri tentang beliau yang ditulis oleh beberapa orang yang selama ini bersinggungan langsung dengan beliau dalam kaitannya isu difabel. Tulisan ini adalah seri pertama.