Selamat Hari Diabetes Nasional untuk anak-anak dan remaja Indonesia dengan diabetes mellitus tipe 1! Sebentar lagi bulan puasa lho. Dan anak-anak dengan DM tetap bisa berpuasa. yuk kita cari tau gimana cara yang baik untuk tetep sehat berpuasa selama bulan Ramadhan. Disamping mengejar pahala, kita juga diwajibkan untuk menjaga kesehatan., guys…

Sebelumnya, taukah kamu bahwa nggak semua anak-anak difabel terlihat menggunakan alat bantu seperti kursi roda, tongkat dan alat bantu lainnya? Misalnya, pada anak dengan Diabetes Mellitus tipe-1. Mereka tidak menggunakan alat bantu apapun tapi selalu bergantung pada suntikan insulin untuk membuat netral kandungan gula darahnya. Penanganan yang salah berpotensi menjadikan difabel. Jika sudah difabel, penanganan yang salah akan menambah derajat difabelnya, lho..

Diabetes sebagai Penyakit Nggak Menular

Diabetes Nggak Menular ( via www.suarasurabaya.net )

Kita nggak usah terlalu khawatir terhadap penderita penyakit Diabetes Melitus (DM). Hal ini karena ia bukan penyaikit menular. Secara global, jumlah pasien yang menderita penyakit tidak menular seperti Diabetes Melitus (DM) mengalami peningkatan setiap tahun dan hingga saat ini, DM tipe-l memerlukan pengobatan seumur hidup. So, kita harus tetap waspada. Namun, nggak usah panik yah, gyus…

Penanganan Optimal, Meningkatkan Tumbuh Kembang Anak

Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak-anak ( via www.indozone.id )

Meskipun memerlukan pengobatan seumur hidup, dengan penanganan yang optimal, anak dengan DM tipe-l dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal layaknya anak sehat. Dengan demikian, penanganan yang baik pada DM tipe 1 sebagai Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) secara global di seluruh dunia. Hal ini juga dapat megurangi resiko anak menjadi difabel.

Baca Juga : Dear Moms, Ini Tips dari dokter Mahrunnisa untuk Bunda yang Memiliki Anak Difabel

Penyuntikan Insulin

Diabetes sangat Bergantung pada Insulin via www.kompas.com )

DM tipe-I adalah berkurangnya produksi insulin yang bisa menyebabkan meningkatnya kadar gula darah lebih atau sama dengan 200 mg/dl yang diperiksa baik secara acak atau 2 jam setelah makan. Hal ini disebabkan oleh adanya kerusakan pada pankreas sebagai pabrik yang menghasilkan insulin. Insulin inilah yang seharusnya berfungsi mengatur kadar gula darah di tubuh. Oleh karena itu, pasien dengan DM tipe-I membutuhkan suntikan insulin secara terus menerus untuk mempertahankan kadar gula darahnya dalam batas normal.

Pentingnya Pengetahuan dan Kemandirian Orang Tua

Pentingnya Pengetahuan dan Kemandirian Ortu ( via www.lampost.co )

Untuk menjaga pasien dengan DM tipe-I ini, dibutuhkan pengetahuan dan kemandirian orang tua serta dukungan keluarga dalam mengatur dosis insulin, mengatur nutrisi, mengatur olah raga, dan memantau kadar gula darah untuk menghindari komplikasi. Komplikasi yang cukup sering terjadi terutama saat berpuasa adalah hipoglikemia atau kadar gula yang rendah sehingga membuat tubuh lemas dan bias sampai dengan hilang kesadaran atau pingsan. Selain hipoglikemia, pada saat bulan puasa juga bias menyebabkan hiperglikemia atau gula darah yang tinggi yang biasanya terjadi karena lupa menyuntik insulin setelah makan besar atau buka puasa.

Apakah semua Pasien Memiliki Risiko Komplikasi ?

Siapakah yang Beresiko?

Tentu saja nggak semua pasien DM dan ada beberapa kriteria kelompok pasien yang berisiko tinggi mengalami kondisi yang memperburuk penyakitnya. Sehingga kelompok ini dianjurkan untuk nggak berpuasa dulu selama bulan puasa. Pasien tersebut antara lain,Penderita DM yang pernah mengalami hipoglikemia berat dalam 3 bulan sebelum Ramadan, Riwayat hipoglikemia berulang, Kontrol glikemik kurang baik (HbAlc ~8), dan Riwayat ketoasidosis* diabetik dalam 3 bulan sebelum Ramadan.

Bagaimanakah Rekomendasi selama Ramadhan

Ramadhan Identik dengan Puasa ( viawww.tribunews.com )

Beribadah puasa Ramadan yang meliputi asupan nutrisi, olahraga dan aktivitas fisik, serta control terhadap status gula darah (glikemik)

Yang pertama adalah perhatikan nutrisi. Konsumsi makanan yang kaya karbohidrat dalam jumlah besar saat berbuka puasa, sebaiknya dihindari. Makan makanan yang mengandung karbohidrat kompleks dilakukan pada saat sahur, utamanya akhir waktu sahur. Misalnya buah, sayur, kacang-kacangan, yoghurt, sereal, dan nasi.

Kedua, akivitas fisik seperti biasa sebaiknya tetap dilakukan. Sedangkan untuk Olahraga berat sebaiknya dihindari selama jam-jam berpuasa. Ketiga,memantau kadar gula darah sesuai anjuran dokter, biasanya bisa sehari 3-4 kali sesuai jam suntik insulin. Bila kadar glukosa darah tinggi yatu > 250 mg/dL atau 14 mmoll menjadi salah satu rekomendasi untuk melakukan puasa. Selain gula darah, kadar keton urin juga sebaiknya diperiksa.

Bagaimanakah Rekomendasi untuk Membatalkan Puasa?

Asupan Nutrisi sangat Penting(via www.niddk.nih.gov )

Nah, setelah tahu rekomendasi di atas, masih semangat kan untuk puasa. Tapi moms, ada juga lho rekomendasi untuk membatalkan puasa jika ada kondisinya kurang baik. Misalnya, kadar glukosa darah :::;70 mg/dL (4 mmollL) atau mengalami 
gejala dan tanda hipoglikemia., kadar glukosa darah >300 mg/dL (16,6 mmol/L) atau bila ~250 
mg/dL (I4 mmollL) dengan keton positif, serta saat anak sedang sakit.


Selain rekomendasi di atas, jangan lupa sebelum bulan Ramadhan ini untuk control ke dokter anak untuk melakukan penyesuaian regimen dosis insulin ya moms.

Nah, setelah tau fakta dan rekomendasi di atas, ayo kita sama sama mewujudkan pembangunan berkelanjutan SDGs agar anak-anak Indonesia selalu sehat untuk tumbuh dan berkembangnya.

dr. Mahrunnisa Fitria., M.Sc., Sp.A, Dokter spesialis anak dan tim konsultasi difapedia. Bagi yang hendak berkonsultasi, silakan hubungi difapedia yaahh..

*ketoasidosis : komplikasi diabetes yang disebabkan oleh tingginya produksi keton dalam tubuh.