Membicarakan Hari Kartini identik dengan perempuan. Difapedia sebelumnya sudah memuat tentang perempuan dari kalangan difabel. So, kali ini Difapedia dalam momentum Hari Kartini secara lebih spesifik memuat tokoh perempuan difabel yang sudah dituliskan sebelumnya. Kami ingin melihat dari sudut pandang perjuangan masing-masing tokoh. Kali ini difapedia akan mengangkat tokoh Helen Keller. Sosok yang selama ini sering ditemui quote-quote inspiratifnya.

1. Multi-Difabel; Netra, Rungu, dan Wicara

Nggak sedikit dari kita yang mengeluh karena keadaan. Akan tetapi, nggak demikian dengan Helen Keller. Ia adalah penyandang difabel ganda. Ia nggak hanya difabel netra, tetapi juga difabel rungu dan wicara. Bisa dibayangkan kan bagaimana menghadapi kenyataan hidup yang demikian.

2. Belajar Ekstra Keras

Dengan kondisinya yang difabel netra, difabel rungu, dan difabel wicara, membuat Helen muda berjuang ekstra keras. Ia nggak dapat menggunakan penglihatannya sebagaimana kita yang “normal”. Dengan kondisi yang netra, arus informasi biasanya sangat bergantung pada pendengaran, akan tetapi ia juga mengalami difabel rungu. Ditambah dengan kondisinya yang juga tidak bisa berbicara. Belum lagi posisi perempuan di masanya yang masih lekat dengan budaya patriarki. Ia benar-benar paket komplet. Pakai telor, daging, dan sayur. Kisah hidupnya dapat kita baca dalam Autobiografi yang best seller; The Story of My Life.

Baca Juga : Hari Perempuan Internasional dan Eorld Hearing Day; Inilah Perempuan dengan Difabel Rungu yang Layak Kamu Teladani

3. Perpaduan Gerak Tangan dan Perabaan

Usaha keras yang dilakukan pertama kali adalah bagaiaman Helen muda berkomunikasi. Dengan bimbingan pendamping dan gurunya, Anne Sulivan, ia berkomunikasi dengan perpaduan isyarat dan perabaan. Dalam kata lain, ia menggunakan bahasa isyarat, sekaligus meraba pergerakan jari-jari dan bibir lawan bicara saat berkomunikasi. Hal inilah yang memudahkan dia dalam berkomunikasi. Yang dimanfaatkan pula dalam proses belajar.

4. Menembus Harvard

Memang benarlah adigium, bahwa perjuangan keras nggak akan mengkhianati hasil. Hal inilah yang dialami oleh Helen Keller. Berkat kegigihannya, ia berhasil menjadi difabel netra-rungu pertama yang menembus Harvard. Nggak hanya menembus Harvard, ia juga mendapat karpet merah untuk mengisi di Harvard dan beberapa kampus lain. Ia merupakan salah satu tokoh pendobrak tatanan pendidikan bagi difabel. Yang hingga kini, catatan sejarah yang beliau ukir senantiasa tetap harum.

5. Difabel; Ada Karena Hambatan

Lalu, apakah yang bisa dipetik dari Helen Keller? Nggak lain, bahwa difabel itu ada karena hambatan yang dialami masih ada. So, untuk menghilangkan hambatan tersebut dibutuhkan upaya yang dimodifikasi sedemikian rupa. Helen Keller bisa sampai apa yang ditorehkannya berkat menghilangkan hambatan komunikasi. Ia melakakuan perpaduan antara bahasa isyarat dan indera perabaan.

6. Peran Pendamping

Tentunya untuk menghilangkan hambatan tersebut nggak lepas dari guru atau pendamping. Helen bersyukur bisa menemukan Anne Sulivan. Sosok yang nggak sekadar menjadi pendamping. Ia sanggup memerankan sebagai guru yang menghilangkan hambatan komunikasinya, termasuk dalam proses pembelajaran yang didapat.

Tentunya masih banyak kartini-kartini lain dari kalangan difabel. Helen Keller hanyalah satu dari sekian kartini tersebut. Membutuhkan perjuangan keras. Konsistensi pada tujuan. Dan tentunya dukungan dari lingkungan sekitar agar difabel bisa sukses di segala bidang. Ia hanya dapat terwujud sepanjang inklusifitas bisa berkembang di masyarakat. Seperti yang sudah ditunjukan Helen Keller.