Kebijakan New Normal yang baru-baru ini akan diterapkan di seluruh wilayah Indonesia rupanya menginspirasi dua organisasi ramah difabel khususnya Tuli (difabel rungu-red) di wilayah Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Organisasi Sahabat Dengar dan Typist Purwokerto berkolaborasi dengan apik dalam membangun kesadaran akan kesetaraan melalui webinar bertemakan New Equality – Mengenal Identitas dan Budaya Tuli.

Webinar New Equality diselenggarakan pada hari sabtu, 06 juni 2020 yang diikuti lebih dari 25 partisipan ini sekaligus sebagai upaya membumikan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) melalui kelas gratis sebagai salah satu agendanya. Webinar menyediakan Juru Bahasa Isyarat, Firman Prayoga, so, penyampaian materi dan komunikasi antara teman Tuli dan teman dengar dapat berjalan dengan lancar.

Mengenal Tuli

Bella, Narasumber Webinar ( via dok. Panitia )

Pada sesi pertama yaitu sesi presentasi, Aulia Nabila Fikra Ayu Laraswati sebagai Narasumber dalam Webinar New Equality sekaligus mahasiswi Institut Teknologi Telkom Purwokerto jurusan Desain Komunikasi Visual menjelaskan bahwa pada dasarnya terdapat perbedaan antara Tunarungu dan Tuli.

“Istilah Tuli muncul dari perspektif sosial, kalau Tunarungu itu dalam perspektif dokter atau medis. Lalu untuk pemakaian kata tuli dengan huruf “t” kecil menunjukan pada kondisi audiologis atau tidak mendengar. Sedangkan kalau Tuli dengan huruf “T” kapital lebih menunjukan pada identitas yang lebih baik, yaitu Tuli yang memiliki budaya Bahasa Isyarat dalam berkomunikasi serta tentunya tidak menganggap mereka cacat” jelas Bella.

( Di lapangan masih muncul beberapa dinamika penyebutan untuk kelompok ini, ada yang menggunakan Disabilitas Rungu, Difabel Rungu, Tuli, hingga Tunarungu. Istilah resmi Pemerintah Indonesia adalah Disabilitas Rungu, Sedangkan difapedia konsisten menggunakan istilah “difabel rungu” sebagai upaya mengakomodir semuanyaredaksi )

Bahasa Isyarat

Peserta Memeragkan Bahasa Isyarat ( via dok. Panitia )

Dalam kaitannya Bahasa Isyarat dengan Identitas dan Budaya Tuli, Bella menjelaskan bahwa terdapat dua macam Bahasa Isyarat yang digunakan di Indonesia, lho.

“Pertama, SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) yang merupakan Sistem Isyarat yang disusun atau diciptakan oleh orang dengar dan dipakai di SLB (Sekolah Luar Biasa), serta merupakan bentuk Bahasa Isyarat adopsi dari ASL (American Sign Language). Kedua, BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) yang merupakan Bahasa Isyarat yang lahir alami. Bisa dikatakan sebagai bahasa ibu dari Bahasa Isyarat yang ada di Indonesia. Bisindo juga lebih mudah dipahami dan digunakan bagi teman Tuli”, jelas Bella.

Etika Berhadapan dengan Tuli

Komunikasi dengan Bahasa Isyarat ( via www.talkactive.id )

Selain mengedukasi partisipan dengan penjelasan Identitas dan Budaya Tuli, nggak lupa Bella juga mengedukasi terkait Etika yang harus diterapkan oleh teman dengar ketika bertemu dan berkomunikasi dengan teman Tuli.

“Budaya Tuli mengandalkan visual ketika berkomunikasi, sehingga harus terjadi eye contact dan jika tidak demikian maka akan dianggap tidak sopan. Saat berkomunikasi, teman dengar juga dapat bertanya kepada teman Tuli terkait cara berkomunikasi mana yang nyaman Ia pakai. Bertanya kepada teman Tuli terkait media apa yang mereka nyaman dalam menggunakannya? Media tulis, Bahasa Isyarat atau oral”, imbuh Bella.

Tuli sebagai Kelompok Rentan

Memahami Tuli sebagai Kelompok Rentan ( via www.solider.id )

Keberadaan teman Tuli juga sangat rentan dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang minim akan pemahaman Identitas dan Budaya Tuli serta minim akan kesadaran terkait kesetaraan.

“Terdapat konsep Audisme dimana orang-orang dengar berprasangka bahwa Tuli memiliki kehidupan yang menyedihkan. Mereka cenderung memaksa Tuli untuk menjadi orang dengar semirip mungkin dan bila perlu menghindari penggunaan Bahasa Isyarat, sehingga terjadilah diskriminasi dan penindasan hak serta budaya Tuli itu sendiri. Perilaku-perilaku yang menunjukkan audism yang sebenarnya yaitu seperti orang-orang dengar akan menghindar ketika diajak bicara, meminta teman Tuli berbicara normal atau membaca gerak bibir mereka, menganggap bahasa Indonesia atau verbal lebih tinggi daripada Bahasa Isyarat” imbuh Bella.

Mencari Persamaan, bukan Perbedaan

Menerima Perbedaan ( via redaksi )

Sesi webinar diakhiri dengan kelas Bahasa Isyarat secara interaktif, yang meliputi Bahasa Isyarat Alfabet, anggota keluarga, kata sifat dan kata tanya. Selain itu juga, Raihan dari Sahabat Dengar sebagai host memberikan quote yang sekaligus mengajak para partisipan agar semakin peduli dengan isu kesetaraan yang ada, terutama untuk merangkul teman-teman difabel,

“Kita hidup sebagai individu yang berkelompok, alangkah baiknya kita memanusiakan manusia lainnya. Jika ada perbedaan, carilah persamaannya, bukan malah mencari perbedaannya dan kemudian mendiskriminasinya”, tutupnya.

Ragil Rencoko Mahesa Putra Nainggolan, Alumni Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman.

*Tulisan ini merupakan kiriman dari pembaca. Segala konsekuensi dan tanggung jawab ada pada diri penulis sepenuhnya. Difapedia sebatas mempublikasikannya. Jika teman-teman pengin tulisannya dimuat di difapedia.com bisa mengirimkannya di redaksi.difapedia@gmail.com