Memasuki usia 75 tahun bukanlah berada dalam posisi yang muda lagi. Ia dapat dikatakan memasuki fase sepuh. Tentunya sudah makan asam garam. Sudah cukup banyak prestasi yang diraih. Salah satunya kita sudah masuk G-20. Indonesia menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Nggak cuma itu, kita juga telah masuk dalam kategori negara berpenghasilan menengah ke atas. Meskipun demikian, difabel sama sekali belum merdeka lho. Difabel masih berada dalam ruangnya. Yang sendiri. Sunyi. Sepi…

1. Diskriminasi dan Stigma

Diskriminasi dan Stigma, PR Besar Indonesia ( via www.genpi.co )


Nggak bisa dipungkiri, jika saat ini difabel masih seringkali mendapatkan diskriminasi. Entah dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi dan lain-lain. Contohnya kasus siswa difabel yang ditolak masuk sekolah hanya karena tangannya “berbeda” dari yang lain. Stigma yang cenderung negatif menjadi penyebab utama.

Bukankah tolok ukur sekolah ada pada otak alias pikiran manusia? Kenapa sih kok bisa membawa kepada hal-hal yang fisik? Jika mengandalkan hal yang bersifat fisik, apa bedanya sistem pendidikan kita dengan kontes kecantikan semata?


2. Kebijakan Sekadar Hitam di Atas Putih

Antara Regulasi dan Fakta ( via www.wartanasional.com )


Pemerintah, baik pusat maupun daerah, sudah banyak memproduksi regulasi yang bertujuan menjamin hak-hak difabel. Meskipun demikian, seringkali kebijakan yang ada minim implementasi. Selain sosialisasi yang masih minim, kesiapan di lapangan pun seringkali menjadi penyebab utama, baik lingkungan maupun penerimaan di masyarakat.

3. Implementasi yang Setengah-tengah

Akses Sepenuhnya? ( www.worldbank.org )


Kita layak memberikan apresiasi kepada pemerintah atau swasta yang sudah mencoba mengimplementasikan regulasi yang ada. Misalnya rekrutmen CPNS beberapa waktu lalu yang terbuka kepada difabel. Sayangnya, temuan di lapangan masih cukup banyak kebijakan yang terkesan setengah-tengah. Misalnya, belum terbuka untuk semua ragam difabel. Misalnya difabel netra. Padahal, yang bersangkutan kompetensinya di atas rata-rata.

4. Difabel Sekadar Menjadi Objek

Melibatkan Difabel ( www.griffith.edu.au )


Satu hal yang sering menjadi catatan redaksi adalah penempatan difabel sekadar aebagai objek dari suatu program. Alhasil, keberadaan difabel pun sebatas sebagai tujuan akhir dari program. Masih minim sekali yang menempatkan difabel juga sebagai partisipan dan melakukan action. Sudah sepantasnya difabel ditempatkan sebagai subyek dari pembangunan. Please, tempatkan difabel sebagai mitra, rekan, dan sahabat yang senantiasa ramah.

5. Difabel Dikontruksikan sebagai Sosok yang Dikasihani

Melihat Difabel dari Sisi Berbeda ( www.playbytherules.net.au )



Apakah yang pertama kali terlintas dalam pikiranmu saat menemui atau melihat difabel, guys? Apakah merasa kasihan? Jika iya, come on. Let’s change our minds!
Difabel bukanlah individu yang layak dikasihani. Posisikan mereka sebagai individu yang sama dan sejajar dengan kita. Mereka hanya sebagai individu yang berbeda. Masing-masing dari kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang menjadi problem adalah mereka terhambat dan nggak bisa mendapatkan hak-haknya dikarenakan fasilitas dan layanan belum aksesibel sesuai dengan kebutuhan ragam difabelnya.
So, saat layanan dan fasilitas sudah terpenuhi sesuai dengan ragam difabelnya, saat itulah kita baru dapat kitakan merdeka. Merdeka yang seutuhnya. Sebagai manusia. Tentunya..

Salam Inklusif!