Pandemik Corona Virus Disease-19 (Covid-19) hingga kini belum memunculkan tanda-tanda mereda. Virus yang berawal dari Wuhan, Tiongkok, ini telah mewabah di lebih dari 200 negara, termasuk Indonesia. Sebagai negara berkembang dengan populasi difabel lebih dari 25 juta jiwa, diperlukan upaya yang terstruktur dan masif dari pemerintah untuk mengantisipasi kelompok rentan ini.

Melihat karakteristik covid-19, dan fakta di lapangan, bersama lansia, difabel merupakan kelompok yang paling rentan di tengah wabah pandemik ini. Seenggaknya difapedia merangkumnya lewat tulisan ini.

1. Nggak Sedikit Difabel yang Memiliki Riwayat Penyakit

Di dalam masyarakat, kita dapat menemukan difabel berdasarkan penyebabnya. Ada yang mengalami sejak lahir, alias faktor genetik. Ada pula yang terjadi akibat kecelakan. Nggak sedikit pula yang mengalaminya disebabkan karena penyakit, lho..

Nah, yang kena panyakit itulah yang sangat rentan terkena covid-19, misalnya kelumpuhan yang disebabkan polio. Selain itu, difabel yang mengalami sejak lahir juga seringkali dibarengi dengan penyakit, misalnya hidrocepalus, celebral palcy, dan sejenisnya.

2. Lansia dan Difabel memiliki Sistem Imun yang Cenderung Lemah

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, difabel yang dibarengi dengan penyakit merupakan kelompok rentan terdampak langsung covid-19. Dengan adanya penyakit, bersama lansia, mereka memiliki sistem kekebalan tubuh yang sudah berkurang. Hal ini berbeda dengan masyarakat umum yang selama ini bebas penyakit. Sistem imun tubuh mereka cukup kuat, sehingga reskio terpapar covid-19 lenih kecil.

3. Fasilitas Layanan yang Belum Aksesibel

Dengan kondisinya yang berbeda, difabel membutuhkan fasilitas dan layanan yang berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan yang ada. Akan tetapi, seperti yang sobat lihat sekalian, sekarang nggak sedikit fasilitas yang belum aksesibel kepada difabel. Termasuk dalam hal aksesibilitas layanan kesehatan. Baik aksesibilitas fisik maupun non-fisik.

4. Difabel Rentan Terkena Dampak Nggak Langsung

Dengan kondisinya yang berbeda, serta fasilitas yang belum aksesibel, hal ini memperparah pada kerentanan difabel. Misalnya dalam hal tenaga kerja, baru 10,8% difabel yang bekerja. Hal ini tentunya akan berdampak nggak langsung dari covid-19, yakni dampak sosial-ekonomi. Difabel yang selama ini nggak sedikit terpuruk akan semakin terpuruk.

Dibutuhkan upaya maksimal dari pemerintah agar difabel dan lansia nggak semakin terpuruk, guys. Tentunya dengan dukungan dari masyarakat pula. Bahkan, selama ini gerakan dari masyarakat, utamanya yang dipelopori organisasi, komuitas, dan LSM cenderung lebih menggema. Diperlukan kolaborasi antara keduanya. Dimulai dari pendataan, pemeteaan potensi kerentanan, hingga distribusi yang merata dan aksesibel. Mari berusaha dan berdoa, semoga wabah covid-19 segera berakhir dan kehidupan dapat berlangsung normal seperti sediakala..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *