Pada dasarnya semua orang berhak menjadi inspirasi bagi orang lain. Ia tak mengenal dari rahim mana kamu dilahirkan. Tak pula melihat dari mana kamu berasal. Ia hadir karena buah dari perjuangan yang digoreskannya. Tintanya tersulam bak emas di antara noktah-noktah hitam, dears..

Lalu, kenapa akhir-akhir ini muncul “gugatan” atas status difabel yang selama ini oleh publik dianggap sebagai obyek inspirasi?

Alasan-alasan berikut adalah tanggapan subyektif saya sendiri. Kamu bisa menerimanya. Bisa pula menolaknya. Terlebih, inspirasi adalah sebuah kata yang kehadirannya subyektif, yahh..

Inspirasi adalah Hak Semua Orang. Ia tidak Melihat Difabel atau Non-Difabel

Mau kamu sebagai difabel atau bukan, pastinya memiliki kesempatan untuk bisa menginspirasi orang lain. Ia menjadi inspirasi bukan karena statusnya yang difabel. Lebih dari itu, ia disebabkan langkah yang sudah ditorehkan dalam catatan hidupnya. 

Inspirasi hadir Karena Perjuangan akan Kehidupannya

Tidak dapat dipungkiri, bahwa kita bisa meneladani sosok dikarenakan karena perjuangan yang sudah dilakukannya. Gerak-gerik yang ditasbihkannya. Pada jalan kehidupan yang telah dirintisnya. Sekali lagi, perjuangannya-lah yang menjadi landasan, dears..

Tidak Setiap Capaian dapat Menginspirasi Orang Lain

Bagi saya pribadi, yang selama beberapa puluh tahun ini menyelami hakikat hidup, tidak selamanya capaian hidup dalam orang lain bernilai inspirasi. Misalnya, saat orang-orang desa mulai mengenyam bangku kuliah. Dulu, mereka bisa menjadi inspirasi. Tetapi, ketika mengenyam bangku kuliah mulai menjadi hal yang umum di suatu desa, hal tersebut adalah hal yang biasa. Begitu juga dengan keberadaan difabel yang mengenyam bangku kuliah, misalnya di UIN Yogya atau UB. Bagi saya pribadi adalah hal yang biasa. Terlebih jika berasal dari kalangan ekonomi yang mampu. Dengan perhatian yang lebih, difabel dapat tertangani dengan baik sejak dini. Hal ini berbeda jika difabel tersebut dari kalangan tidak mampu, bagi saya akan sangat memberikan keteladanan dan inspirasi. Begitu juga dengan difabel yang berprestasi dalam akademik maupun non-akademik. Hal inilah yang bisa menjadikan inspirasi. Setidkanya bagi saya sendiri… Baik terhadap prestasinya, maupun ketelatenan orang tua yang dapat menjadi role model bagi orang tua yang lainnya.

Setiap Orang Bermimpi untuk Berprestasi, Tidak Semua dapat Mewujudkannya

Berbicara soal prestasi adalah hal yang subyektif. Akan tetapi, kita memiliki rambu-rambu umum yang selama ini diterima di masyarkat. Tidak heran saat musim penerimaan mahasiswa baru kita seringkali menemukan judul artikel “Anak Tukang Sate Berhasil Kuliah di UGM”, “Anak Tukang Becak Berhasil Lulus Terbaik dan Dapat Beasiswa S2 di Luar Negeri”, dan seabrek lainnya. Intinya, mereka adalah orang-orang terpilih. Yang pada akhirnya, tersebab pada catatan perjuangannyalah yang menjadikan inspirasi. Ia dapat mencapai perguruan tinggi yang dianggap salah satu yang terbaik, sesuatu yang selama ini menjadi rambu-rambu umum. Ia dapat mencapai prestasi akademik yang memuaskan dan mendapat beasiswa S2 di luar negeri, ia pula tercatat dalam rambu-rambu umum. Sesuatu yang selama ini sudah menjadi pandangan umum di masyarakat.

Inspirasi adalah Ia yang Melampaui Sekat-Sekat Kemapanan

Finally, meskipun ada beberapa pihak yang menggugat terkait keberadaan difabel yang dijadikan obyek inspirasi. Yakinlah, bukan karena statusnya yang difabel. Bukan karena menganggap difabel tidak mampu melakukan hal-hal yang non-difabel lakukan sehingga muncul anggapan bahwa ketika difabel bisa melakukan sesuatu dianggap sebuah prestasi, sedangkan saat non-difabel melakukan sesuatu dianggap sebagai hal yang biasa. Tersebab, tidak semua capaian difabel pun dijadikan obyek inspirasi. Pun, tidak semua capaian non-difabel dijadikan obyek inspirasi. Ia dijadikan inspirasi dikarenakan perjuangan yang dihasilkan melampaui sekat-sekat kemapanan yang ada. Tidak lebih. Tidak kurang….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *