Siapakah di antara sahabat difapedia yang sepanjang tahun 2019 ini memiliki kenangan yang wajib di catat? Entah dalam hal persahabatan, pendidikan, hingga percintaan. Semoga semuanya memberikan kenangan yang pantas dicatat dalam diary kita yah…

Memasuki fase akhir 2019, adalah baik kiranya kita merangkum peristiwa untuk dibangun menjadi sebuah kenangan sekaligus refleksi. Selain itu, dapat menjadi pijakan untuk membuat resolusi tahun 2020..

PP Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Disabilitas (baca Difabel)

Setelah melalui pembahasan yang panjang, akhirnya pemerintah mengesahkan PP No 52 Tahun 2019 tentang Kesejahteranaan Sosial bagi Penyandang Disabilitas. Tentunya ini menjadi angin segar untuk mewujudkan kesejahteraan difabel yang sejauh ini masih terpinggirkan. Meskipun minim sorotan dari media dan masyarakat, adanya PP ini akan memperkuat UU No 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. So, mari kita kawal dengan penuh harapan. Menuntut peran kaum milenial untuk menemani perjuangan teman-teman difabel yang sejauh ini masih terpinggirkan…

Baca Juga: Apakah Difabel Tak Berhak Menjadi Inspirasi?

RUU PKS; Ikhtiar Memberikan Perlindungan Lebih pada Perempuan dengan Difabel

Meski demikian, jalan terjal mesti dihadapi aktifis difabel dalam upaya memberikan perlindungan lebih kepada perempuan dengan difabel. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang di dalamnya memberikan perlindungan yang lebih spesifik terhadap perempuan dengan difabel yang sangat rentan menjadi korban kekerasan seksual masih menemui banyak kendala. Awamnya masyarakat dalam menyikapi RUU ditambah dengan dijadikannya sebagai komoditas politik menjadikan RUU PKS membutuhkan waktu dan tenaga lebih untuk disahkan. Ia menjadi bias. Tetap semangat berjuang, dear…

Kasus Dokter Gigi Romi dan Diskriminasi CPNS

Salah satu kasus yang mencuat dan mendapat atensi publik adalah kasus diskriminasi difabel pada CPNS. Salah satu korban yang menjadi perbincangan publik adalah dokter gigi Romi. Kelulusannya dibatalkan disebabkan kondisinya difabel. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) pun memutuskan adanya diskriminasi dalam kasus  drg. Romi.

Kasus drg. Romi yang akhirnya memenangkan gugatannya ternyata tidak menjadi media pembelajaran bagi pihak-pihak terkait. Hal ini dibuktikan dengan adanya syarat-syarat diskriminatif dalam Seleksi CPNS Tahun 2019. Syarat-syarat tersebut baru dihapuskan oleh BKN mendapat kritik keras dari masyarakat. Ternyata, bangsa kita masih belum bisa belajar dari mantan, eh kesalahan…

Baca Juga : Kisah Perjuangan Pengusaha Difabel: Dua Tahun Ditolak Oknum Warga, Kepala BKPM Curigai Persaingan Bisnis

Tampilnya Angkie Yudistia dan Masa Depan Difabel Indonesia

Salah satu gebrakan yang dilakukan Presiden Jokowi adalah mengangkat generasi milenial sebagai Staf Khusus Presiden. Sebuah langkah yang patut diapreisasi dalam memanfaatkan bonus demografi sekaligus menyiapkan generasi emas Indonesia. Kejutan muncul ketika tampilnya Angkie Yudistia, difabel rungu yang sekaligus sebagai jubir bidang sosial.

Tampilnya Angkie menandakan perkembangan inklusif di Indonesia sudah mulai memperlihatkan sinyal positif. PR besar adalah bagaimana menjaga konsistensi serta menularkan inklusifitas di semua sektor yang ada, baik pemerintah maupun swasta. Tampilnya Angkie Yudistia bukan berarti persoalan difabel otomatis selesai. Hal ini disebabkan masih banyak problem yang dihadapi sepanjang 2019 untuk menghadapi tantangan di tahun 2020 mendatang.

Tahun 2019 sudah dilewati. Saatnya mengatur harapan dan strategi. Menatap tahun baru dengan penuh ekspektasi. Kenyataan bahwa difabel masih memerlukan sentuhan tiada henti. Sebab, di sanalah keadilan dan harapan mesti ditunaikan. Bukan sekadar janji yang tak kunjung terpungkasi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *