Saat pagi beranjak memulai, apakah kiranya yang kita lalui, Dear? Menyeduh secangkir kopi? Atau barangkali menyantap teh hangat bersama sepiring roti?

Setelah itu, beranjak pada rutinitas yang selama ini kita jejaki. Membaca buku, lari pagi, bekerja, atau barangkali membaca dan menggali inspirasi dari difapedia, guys..

Itulah makna sebuah hidup. Ia adalah sebuah perjalanan. Namun, ketika kita menemukan takdir sebagai seorang difabel, apakah menjadi difabel adalah akhir dari perjalanan? Apakah dengan statusnya sebagai difabel menghalangi seseorang untuk tetap melabuhkan harapan?

Takdir Tuhan adalah yang Terbaik bagi Ciptaan-Nya

Sebagai seorang difabel, ia adalah takdir dari Tuhan. Takdir dari Tuhan adalah yang terbaik bagi setiap manusia. Itulah yang menjadi prinsip dalam menghadapi realitas, menghadapi kenyataan sebagai seorang difabel.

Seperti Pepatah, Daun yang Gugur Tidak Membenci Angin yang Perlahan-lahan Mengugurkannya

Ketika kita sudah menganggap takdir adalah yang terbaik bagi kita, hati dan pikiran senantiasa positif. Ia tidak akan pernah menggugat terhadap kondisinya. Entah itu sebagai difabel, berada dalam situasi yang tidak menyenangkan, maupun takdir lainnya. Yang ada adalah kita akan melakukan sesuatu yang terbaik. Sesuatu yang maksimal sesuai dengan kekuatan kita.

Kita harus percaya, guys. Bahwa ketika kita melakukan yang terbaik, maka kebaikan demi kebaikan akan senantiasa mengikuti kita. Cepat atau lambat.. J

Hidup Selalu Beserta Ujian dan Cobaan, bukan Sekadar Hukuman

Ini yang seringkali keliru. Yakni, menganggap ujian dan cobaan sekadar hukuman, azab, dan sejenisnya yang sering ditampilkan di sinetron atau FTV kita itu, lho. Yang kerandanya bisa jalan, bahkan terbang sendiri..

Sesekali tidak selalu berprasangka buruk. Terlebih terkait dengan takdir Tuhan. Ia adalah bagian dari warna-warni hidup. Karena itulah esensi hidup dan kehidupan. Tidak senantiasa tegak dan luruss. Senantiasa zig-zag. Selalu ada kelok. Menjadi difabel, adalah bagian dari ujian dan cobaan. Untuk meninggikan derajat manusia dan kemanusiaannya..

Yakinlah, Ujian dan Cobaan Sesuai dengan Kemampuan dan Daya Tahan Kita

Bagaimanapun, ujian dan cobaan yang dihadirkan Tuhan adalah keniscayaan bahwa kita ini sanggup melaluinya. Ketika ditakdirkan sebagai difabel, juga takdir lain, dikarenakan Tuhan percaya bahwa hal tersebut sesuai dengan kemampuan kita. Sesuai dengan kekuatan kita. Jadi, apa yang harus kita khawatirkan, guys?

Ujian dan Cobaan Menempa Kita pada Keikhlasan dan Ketabahan, maka Teruslah Menabur Harapan

Tidak ada jalan lain, bahwa ketika dihadapkan pada ujian dan cobaan adalah bagian dari upaya untuk menempa kita pada penerimaan yang seutuhnya. Yang bertabur dengan rasa penuh keikhlasan. Terlebih bagi seorang yang selama ini ditakdirkan sebagai difabel. Penerimaan yang ikhlas mengantarkan pada sebuah ketabahan, yakni penerimaan yang konsisten. Ia berlangsung terus menerus. Tiada henti. Untuk terus berjalan. Menitipi garis demi garis kehidupan yang ditintakan Tuhan. Ia senantiasa menabur harapan. Harapan bahwa kehidupan senantiasa berjalan dalam koridor yang terlandaskan pada keikhlasan dan ketabahan.

Maka, teruslah melangkah, dears….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *