Oleh: Edi Sutakwa

Indonesia bisa dikatakan tertinggal dan kalah start dibandingkan negara-negara di luar negeri dalam hal pemenuhan dan keterlibatan insan difabel dalam urusan industri dan teknologi. Di Eropa, penelitian biomedis tangan dan kaki buatan barangkali telah ada sejak puluhan tahun lamanya, di Indonesia hari ini prodi biomedis saja bisa dihitung jari jumlahnya.

Sejak akhir 2017, tim peneliti dari Carnegie Mellon University bahkan telah mengembangkan mobil otonom khusus untuk difabel di Pittsburgh, Pennsylvania. Awal Februari 2021, prototipe mobil ini mulai diujicobakan. Di Australia ada jejaring AgrAbility yang sejak tiga tahun lalu memfasilitasi petani difabel dengan berbagai dorongan moral, mental, finansial, dan instrumental.

Lalu, apa kabar Indonesia dalam perlombaan kemanusiaan demi aktualisasi warga negara difabel? Kita semua tahu bahwa trotoar ramah difabel dengan jalur kuning yang khas telah tersebar hampir di seluruh kota dan kabupaten di Indonesia. Soal instalasinya sesuai atau nggak, misalnya memotong pohon atau bangunan, itu urusan lain.

Peran Pemerintah Untuk Difabel

Kehadiran Pemerintah Salah Satu Faktor Kunci ( via www.ngopibareng.id )

Generasi milenial juga cukup melek kenyataan bahwa kalangan difabel terwakili oleh Angkie Yudistia soal keterlibatan politik dan pemerintahan, sebagai Staf Khusus Presiden. Apakah keberadaan, ide, dan gagasannya berdampak signifikan atau tidak pada kalangan difabel, itu perkara lain. Pak Kiai Ma’ruf Amin yang pada 3 Desember lalu membuka peringatan Hari Disabilitas Internasional juga belakangan mendorong adanya desa inklusif yang ramah difabel.

Banyak sekali berita dengan mentalitas positif dan optimis soal peran pemerintah pusat dalam pemenuhan hak difabel. Meskipun tentu saja tidak semua jajaran pemerintahan daerah memahami betul fungsi dan esensi keterbukaan serta kesamaan kesempatan untuk para difabel. Diskriminasi masih sangat dekat, bahkan patut dicurigai dari kasus yang sampai saat ini masih terjadi, tentang hasil seleksi CPNS salah satu insan difabel di Semarang, Muhammad Baihaqi.

Artinya, jalan panjang dan terjal masih harus diupayakan dan diusahakan demi keadilan para difabel yang sama sekali tidak membutuhkan belas kasihan. Ya, kalangan difabel sebenarnya sangat kapabel dan kredibel dalam menghidupi keluarga, lingkungan, dan kelompok mereka sendiri. Tidak percaya? Saya tunjukkan satu per satu buktinya.

Komunitas Produktif Difabel

Kelompok Difabel Harus Diberi Kesempatan ( via www.merdeka.com )

Kira-kira sejak tujuh tahun lalu, komunitas difabel di Solo telah membaur dan berdaya lewat keterampilan menulis dan menekuni dunia blogger. Komunitas difabel yang berkembang bersama dengan kalangan blogger di Rumah Blogger Indonesia dan Blogger Bengawan ini sudah terbiasa menggunakan gawai dan komputer pagi, siang, hingga malam. Markasnya ada di daerah Jajar, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta.

Jauh sebelum Gojek terkenal, Triyono yang merupakan lulusan Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, telah merintis bisnis komunitas demi gerakan konkret ekspresi wirausaha kalangan difabel. Ojek online dan layanan tur wisata bermerek dagang Difa Bike yang didirikan Triyono bahkan selalu dibanggakan dengan tagline ‘ride sharing difabel pertama di dunia’.

Mestinya sih Pak Menteri Nadiem sekaligus mantan CEO Gojek lebih peka untuk mengajak kerjasama Difa Bike, selain berkongsi dengan Angkie Yudistia lewat fitur Go-Auto dan Go-Glam. Meskipun demikian, sebagai generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi, saya lebih sepakat pada ide tentang keterlibatan kalangan difabel dalam industri kreatif dan media digital yang inklusif.

Industri Media Digital Kreatif

Industri Kreatif sebagai Corong Masa Depan ( via www.agribisisnis.co.id )

Akan lebih penting membangun kultur dan menjembatani jarak antara anak muda non-difabel dengan kelompok difabel. Hal ini agar tumbuh pemahaman bahwa yang dibutuhkan para insan difabel bukanlah rasa iba, akan tetapi akses dan kesempatan. Anak-anak, remaja, maupun orang dewasa dalam kondisi difabel sudah tidak perlu lagi diragukan kemampuannya dalam berkarya dan bekerja.

Salah satu caranya jelas lewat tayangan hiburan yang cocok untuk semua kalangan, tentu saja jangan pernah lupakan moral value dan contoh perilaku yang mendidik. Contoh yang paling happening dan sempat trending di berbagai media sosial adalah animasi Nussa garapan The Little Giantz. Konsep tokoh Nussa yang merupakan sosok difabel sejak lahir perlu diduplikasi dalam beragam tayangan digital. Misalnya iklan produk anak-anak, atau konten pendidikan, Ruang Guru beberapa kali telah mulai melibatkan anak difabel dalam proses bisnisnya.

Kisah sukses lainnya adalah film dokumenter How Far I’ll Go (Sejauh Ku Melangkah) yang memenangi Shorts Pitch Competition dari Tribeca Film Institute di New York. Bahkan film garapan Ucu Agustin ini juga menjuarai Piala Citra 2019 kategori dokumenter pendek terbaik. ‘Sejauh Ku Melangkah’ bercerita tentang perjuangan dua perempuan difabel hebat bernama Salsa dan Dea.

Sayangnya, bukannya dirayakan dengan dorongan akses dan finansial, TVRI melalui Kemendikbud, dan Telkom lewat UseeTV, justru bertindak tidak etis dan terkesan culas dengan menayangkan film How Far I’ll Go tanpa izin, tanpa kontrak, dan tanpa pemberitahuan kepada In-Docs sebagai pemilik sah karya digital ini.

Pekerjaan rumah dan perjuangan kalangan difabel memang masih panjang. Meskipun demikian, setidaknya jalan dan dukungan beragam platform digital serta industri kreatif telah terbuka, sedikit demi sedikit. Kita semua mesti tetap percaya dan terus berusaha, demi dunia yang lebih partisipatif, inklusif, dan tidak diskriminatif.

Edi Sutakwa, M.Sc. Dosen Universitas PGRI Yogyakarta

*Tulisan ini merupakan bagian dari esai terpilih dalam lomba esai “Difabel, Milenial dan Media Digital” yang diselenggarakan oleh Difapedia dengan dukungan pendanaan dari Alumni Grant Scheme (AGS) Round 1 tahun 2020, serta didukung oleh Lokalate dan Owabong Water Park

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *