Sebagai seorang yang merantau di Jogja lebih dari sembilan tahun, saya kok merasa ada yang janggal dengan klaim Mbak Ajeng Rizka yang termuat dalam Mojok edisi 6 Januari lalu. Menurut Mbak Redaktur kita dihimbau nggak usah terbeli romantisisme Jogja. Mungkin Mbak Ajeng punya masalah pribadi yang sensitif. Buktinya, dalam tulisannya ia mengakui pernah sakit hati yang nggak sembuh-sembuh, wkwkwk.

Dalam hemat saya, Jogja memang kalau sekedar untuk menjadi orang yang sugih bin kaya, bakal susah. UMR-nya tak terlalu humanis. Atau dalam bahasa Pak Dhe Nurshodik Gunarjo, amit-amit jabang bayi sak-popoknya.  Tapi, jangan salah, dalam isu difabel, Jogja termasuk berada dalam garda depan. Mulai dari orang-orangnya, gerakannya, institusinya, hingga birokrasinya. Guyub. Khas orang Jawa. Meski tentunya masih memerlukan perbaikan di sana-sini.

1. Jogja memiliki Akar Mula Pendobrakan Konstruksi Difabel

Digawangi Mansour Faqih, istilah “difabel” pertama kali muncul di Yogyakarta. Dr. Mansour Faqih merupakan aktivis HAM pendiri INSIST Yogyakarta. Aktivis yang produktif menulis ini berusaha mendobrak konstruksi “penyandang cacat” medio 1990-an yang cenderung menganggap difabel sebagai “orang cacat”, “tidak mampu”, “tidak sempurna”, dan seterusnya. Lewat tulisan ilmiahnya, beliau mengenalkan istilah baru “difabel”, sebagai terjemahan dari “difable”, akronim dari “different ability”, yakni individu dengan kemampuan berbeda. Istilah inilah yang secara prinsip selalu difapedia gunakan karena lebih humanis dibandingkan istilah disabilitas; dis+able. Beliau sosok yang sangat bersemangat membahas difabel sebagai bagian integral nilai-nilai hak asasi manusia.

Mohon doa restu dan dukungannya Mbak dan Mas semua, yaa. Semoga difapedia istiqomah. Kalau bisa ngalahin mojok lah, wkwk

2. Tempat Berdiam Puluhan Organisasi dan Komunitas Difabel

Di Jogja, selain menjamurnya perguruan tinggi hingga mendapat label Kota Pendidikan, ada hal lain yang perlu diketahui. Di Kota ini ada puluhan organisasi difabel yang reputasinya sudah tingkat nasional, bahkan global. Mulai dari SAPDA, SIGAB, CIQAL, Ohana, Yakkum, HWDI, Gerkatin, PPDI dan masih banyak lagi. Nggak paham kepanjangan dari singkatan tersebut? Googling ya, dears. Nggak punya kuota? Tetring ming Obama lah…

3. Ratusan Aktivis Difabel Tumplek Blek, dari yang Amatir, Profesional, hingga Akademisi

Risnawati Utami adalah orang Indonesia pertama yang duduk di Komite HAM PBB pada Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Bagi kalian mungkin masih asing, nggak apa-apa, gaes. Beliau yang lulusan Master of Law dari Brandies University, AS, merupakan pendiri OHANA. Sampai di sini bisa paham kan, bagaimana sepak terjang aktivis difabel yang berasal dari Jogja. Dengan puluhan organisasi dan komunitas difabel, ditambah perguruan tinggi yang bejibun, ratusan aktivis difabel lahir. Bahkan, hingga pelosok-pelosok desa. Misalnya, di pelosok desa-desa sepanjang Kecamatan Turi dan Tempel yang selama ini berkembang beberapa desa inklusif.

Mulai dari yang amatir, profesional, sampai akademisi. Semuanya komplit. Lengkap. Mungkin bisa disampaikan ke Pak Jokowi, siapa tahu kekurangan aktivis difabel untuk membentuk pemerintahan yang inklusif. Yah, siapa tahu kan? 😀

4. Salah satu Piooner Daerah Inklusif

Jogja merupakan daerah piooner gerakan inklusif. Jauh sebelum UU No 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas dilahirkan, Jogja sudah memiliki Perda Pemenuhan Hak Disabilitas tahun 2012. Tidak hanya itu, Jogja juga sudah memiliki Komite Disabilitas. Sebuah lembaga Independen bentukan Pemprov yang fungsinya sebagai wadah untuk meningkatkan pemenuhan hak-hak difabel. Semua Kabupaten/Kota yang ada pun saat ini sudah mentransformasikan diri sebagai daerah inklusi dengan kebijakannya masing-masing.

5. Penghargaan sebagai Daerah Inklusif

Meskipun jauh dari kata sempurna, namanya juga manusia lah, Jogja merupakan langganan peraih penghargaan di sektor Inklusi. Misalnya, dari Tahun 2012, Jogja merupakan langganan penerima penghargaan pendidikan inklusif, baik level Kota maupun Provinsi. Selain itu, Jogja sudah beberapa kali meraih penghargaan sebagai daerah yang inklusif.

Kerennya, tiap kecamatan di Yogyakarta sudah memiliki komitmen inklusif bagi difabel. Tidak hanya tertera dalam teori yang menggebu-gebu saja, tetapi juga praktik lah. Misalnya, saat ini semua puskesmas di Kota Jogja sudah mulai bergerak untuk memberikan aksesibilitas dan layanan yang inklusif. Dalam bidang pendidikan, hampir semua sekolah umum di Jogja bisa menerima siswa difabel.

Jadi sudah jelas ya, dears. Dalam hal isu difabel, Jogja itu tak sekadar biasa wae. Semoga Mbak Ajeng membaca tulisan ini yaa. Siapa tahu difapedia dapat surat cinta balasan dari mojok.. eaak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *