Oleh: Gerarda Mayella N K

Berbicara mengenai industri mode pastinya nggak lepas dari brand terkenal dengan model yang ‘sempurna’ sebagai representasi hasil karya desainer ternama. Model selama ini identik dengan wajah rupawan, tinggi semampai dan badan yang sempurna. Standar seperti ini membuat adanya batasan tertentu dan ekslusivitas dalam industri mode. Kehidupan yang penuh dengan gemerlap dan orang-orang “sempurna”, sangat ekslusif dan nggak berlaku untuk semua orang tentunya. Difabel yang selama ini lekat dengan stigma ”tidak sempurna” pada akhirnya menjadi sub-zero.

1. Peminggiran Difabel

Difabel yang masih terpinggirkan ( via www.tempo.co )

Jillian Mercado, penyandang Muscular dystrophy yang mengharuskannya mengenakan kursi roda, mengatakan bahwa selama ia beranjak dewasa ia belum pernah menemukan seorang model dengan difabel seperti dirinya dalam dunia mode atau hiburan.

Dikutip dari wawancaranya dalam Teenvogue, “There wasn’t anyone who looked like me in any magazines or mainstream media, TV, or anything. It excluded me from something that I was very passionate about. It was definitely confusing because I knew my worth in the world. I knew that there’s [so many] people out there like me, but we are never included in any conversations.” (Nggak pernah ada orang yang terlihat seperti saya di dalam majalah atau media, TV, atau apa pun itu. Saya merasa terkecualikan dalam sesuatu yang saya sukai. Itu benar-benar membingungkan karena saya tahu kemampuan atau nilai saya di dunia. Saya tahu bahwa ada begitu banyak orang di luar sana yang sama seperti saya, tetapi kami tidak pernah diikutsertakan dalam percakapan apa pun.)

2. Representasi untuk semua

Representasi untuk inklusi ( via www.boredpanda.com )

Kurangnya representasi difabel membuat adanya rasa ekslusif. Seorang anak bisa dikatakan hidup dengan mencontoh perbuatan orang dewasa yang ada di sekitarnya. Dengan adanya difabel yang bisa dijadikan sebagai contoh atau panutan sekiranya akan dapat membawakan banyak pengaruh positif bagi anak-anak dengan difabel yang sedang dalam masa pencarian jati dirinya. Bahkan, bagi non-difabel dalam memutus mata rantai stigma negatif sekaligus mainstreaming isu difabel.

3. Membuka peluang bagi perubahan

Menuju perubahan ( via www.disabilityhorizons.com )

Penting bagi industri mode untuk menyertakan model difabel dan memberikan kesempatan yang sama. Brand dalam industri fashion memiliki kekuatan untuk membuat gebrakan besar dalam dunia mode. Mereka juga mempunyai kemampuan untuk menampilkan seni dan budaya sekaligus mempengaruh pola pikir masyarakat.

4. Mode inklusif sebagai pesan sosial

Sebuah pesan sosial ( via www.boredpanda.com )

Tahun 2018, British Council mengelar pagelaran mode inklusif dan mengajak serta lima model difabel untuk berpartisipasi. Teatum Jones, salah satu desainer yang berpartisipasi dalam merancang busana  percaya bahwa kekuatan mode dapat menyampaikan pesan sosial tentang inklusivitas dan identitas positif. Hal ini diwujudkan dalam pemilihan modelnya. Di tahun 2019 mereka juga kembali membuka kesempatan untuk difabel. Head of Art and Creative Industry British Council, Camelia Harahap berpendapat bahwa selama ini perhatian untuk difabel masih terbatas dalam bentuk amal, bukan memberikan kesempatan untuk berkarya.

Negara-negara maju terutama Amerika dan Inggris sudah mulai menggerakan hal ini untuk membuka kesempatan bagi difabel. Indonesia baru memulai untuk membuka kesempatannya terhadap perubahan positif ini. Seiring dengan berkembangnya kesadaran masyarakat mengenai keberagaman bentuk tubuh diharapkan bisa memberi lampu hijau untuk difabel yang terjun di dunia mode.

*Gerarda Mayella N K, Mahasiswi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel UGM. Tulisan ini merupakan bagian dari project kerjasama Difapedia dengan UKM Peduli Difabel UGM. Bagi individu atau institusi yang ingin bekerjasama dengan Difapedia, silakan hubungi difapediahub@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *