Oktober seringkali dimaknai sebagai bulan kebangkitan kaum muda. Selain tentunya dikenal sebagai Bulan Bahasa. Di sinilah pada tanggal 28 Oktober diperingati Sumpah Pemuda. Sekalipun masih terjadi perdebatan, paling nggak tanpa seremoni yang mereka lakukan, barangkali kita nggak akan mengenal tentang narasi kebangsaan Indonesia, hingga soal Bahasa Indonesia sebagai pemersatu. Periode reformasi sekarang ini, tantangan pemuda nggak jauh berbeda dibandingkan pendahulunya. Salah satunya adalah isu sosial, isu difabel misalnya. Nah, kira-kira apa saja yang seenggaknya bisa kita renungkan pada momentum Sumpah Pemuda kali ini?

Isu Difabel masih marginal

Isu difabel masih terpinggirkan ( www.worldbank.org )


Kita harus melihat fakta bahwa isu difabel sejauh ini masih marginal. Sekalipun sudah mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhit tetapi masih tertinggal dibandingkan isu lainnya. So, harapan kita semua pada generasi milenial dan gen z untuk membumikan isu difabel. Kalau nggak kita yang ngelakuin, siapa lagi?

Pemuda sebagai tolok ukur masa depan bangsa

Pemuda sebagai pilar utama masa depan bangsa ( via www.goodnewsfromindonesia.com )


Sebagai generasi muda, ia menentukan nasib bangsa ke depan. Oleh karena itu, tolok ukur cita-cita Indonesia yang inklusif dapat dilihat dari sejauh mana ia mengakar pada generasi muda. Tatkala generasi muda sudah memiliki sudut pandang inklusif terhadap difabel, ia akan menjadi modal yang cukup membawa bangsa ini ke arah kultur masyarakat yang inklusif.

Pembangunan inklusifitas jangka panjang

Strategi jangka panjang menjadi salah satu kunci pembangunan inklusi ( via www.sindonews.com )


Dengan menitikberatkan pada pemuda, kita sudah melakukan invesatasi yang sangat berharga. Dengan pendekatan yang jangka panjang, akan membuat pondasi yang dibangun memiliki akar yang kuat. Dengan tradisi yang nggak dibangun secara instan, ia akan lahir sebagai sebuah sistem yang akan terus berkesinambungan. Terlebih melihat kenyataam bahwa kita relatif terlambat dalam membangun kultur inklusi.

Mengubah paradigma negatif pada difabel

Merubah paradigma terhadap difabel ( via www.tempo.co )



Yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana merubah paradigma yang saat ini masih banyak terjadi. Kita mafhum, generasi yang suadah “tua” relatif terlambat dalam hal bainstorming isu difabel. So, hal ini akan lebih efektif jika mengarusutamakan generasi muda.

Momentum sumpah pemuda yang seringkali dimaknai sebagai seremoni kebangkitan pemuda diharapkan dapat membuka mata kita lebar-lebar. Lautan yang sedemikian luas, bumi yang terhampar tanpa ujung, masih menyisakan nasib difabel yang masih tenggelam. Tenggelam terlampau dalam ditengah hingar-bingar isu mewujudkan SDM yang unggul…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *