Meskipun banyak kontroversi, hampir semuanya sepakat bahwa Taj Mahal merupakan refleksi cinta yang agung dari seorang raja bernama Shah Jahan terhadap Isterinya, Mumtaz Mahal. Sebuah kisah kesetiaan cinta laki-laki terhadap perempuan yang senantiasa terpatri. Cinta tetap mengalir tulus dan ikhlas sekalipun sang kekasih sudah meninggalkan alam yang fana. Seirama dengan derasnya gemericik air sungai Yamuna yang merupakan salah satu sungai suci di Agra, tempat di mana Taj Mahal berdiri kokoh. Dan gagah..

Sebagai manusia yang haus akan cinta, kita pastinya merindukan kisah cinta yang demikian, kan? Akan tetapi, masih jauh panggang dari api. Tidak jarang kita menghadapi sebuah pengkhianatan. Kepergian mantan yang tak kita kehendaki. Sekalipun perjuangan yang kita lalui penuh dengan air mata. Juga berdarah-darah..

Hal inilah yang sejatinya tidak jauh berbeda dengan difabel. Ia masih merindukan suatu titik, di mana rasa cinta dan kasih itu mengantarkannya pada kedamaian, keadilan, dan kesetaraan. Tentu saja, banyak drama yang turut menyertainya..

Taj Mahal adalah Bukti Bahwa Cinta Kasih yang Tulus dan Ikhlas akan Terus Dihargai Sepanjang Zaman

Hingga saat ini, Taj Mahal terus mendapat perhatian dari berbagai penduduk di belahan dunia. Bangunan bersejarah yang awalnya sebatas simbol cinta kasih kepada isterinya yang telah wafat ini sanggup bertahan. Ia melintasi zaman, hingga menembus ruang dan waktu berabad lamanya. Betapa mulia cinta itu menancap pada ruang hakikat, dears…

Inilah yang diharapkan difabel yang selama ini masih terdiskriminasikan. Ia senantiasa mengharapkan perjuangan yang tulus dan ikhlas untuk membebaskan dari ruang-ruang marginalisasi. Stigma negatif, diksriminasi dalam pendidikan dan pekerjaan, hingga pengabaian dalam hak-hak yang semestinya diraihnya, memerlukan sentuhan yang tulus dan ikhlas. Kelak, yang melakukannya akan tercacat dalam lembaran sejarah. Melintasi peredaran ruang dan waktu yang tercatat dalam buku peradaban. Dikultuskan dalam altar zaman.

Membutuhkan waktu yang Sangat Lama untuk Berjuang, Dears…

Taj Mahal membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Setidaknya hampir 22 tahun dihabiskan untuk membangunnya. Sama halnya dengan perjuangan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi difabel. Masih teramat jauh. Membutuhkan waktu yang lama bagi difabel untuk dapat berdiri sejajar dengan yang non-difabel. Kebijakan yang belum sepenuhnya mengakomodir difabel, hingga kultur masyarakat yang belum inklusif, menjadi alasan bahwa untuk membangun difabel yang kokoh masih memerlukan waktu yang lama.

Kisah Akhir Shah Jahan adalah Karma dan Reinkarnasi atas Pengkhianatan? Mungkinkah Difabel Harus Menunggu Hal itu Terjadi?

Meskipun berhasil membangun bangunan yang megah, Shah Jahan pada akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit. Yang kelak menancapkan catatan kelam dalam diarinya. Anaknya yang kelak menggantikannya, Aurangzeb, membunuh saudara-sauadara kandungnya yang lain demi naik tahta. Seolah, ia adalah reinkarnasi dari masa lalu Shah Jahan, yakni pengkhianatan terhadap saudara-saudaranya. Sekalipun Shah Jahan sudah menjadi putera makhota, ia merasa khawatir terhadap takhtanya hingga rela membunuh saudara-saudara kandungnya sendiri. Pun, di akhir hayatnya, Shah Jahan harus berada di dalam penjara. Dipenjara oleh anaknya sendiri. Pengkhianatan yang paripurna, bukan?

Seperti halnya difabel, ia pun harus menghadapi bermacama-macam “pengkhianatan”. Mulai dari kebijakan yang memarginalisasi difabel, hingga stigma negatif yang dilekatkan kepada mereka. “Pengkhianatan” ini memiliki dampak yang cukup besar pada realitas difabel di Indonesia yang sampai saat ini masih berada dalam diskrimnasi sosial, politik, ekonomi, hingga budaya.

Lalu, apakah kita perlu menunggu karma itu menampakkan diri, dears? Atau, menunggu reinkarnasi itu melintasi batasnya yang terpungkasi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *