Transformasi Digital Inklusi Disabilitas untuk Pengembangan Indonesia Inklusif

Saat ini jarang sekali membahas mengenai transformasi digital bagi penyandang disabilitas. Selain itu, inklusifitas ini juga diperlukan dalam pembangunan Indonesia. Hal ini ditegaskan Sulikah Asmarawati, Wakil Dekan II FISIP Unair, dalam sambutan Workshop Literasi Digital Inklusi Difabel yang diselenggarkan di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair Suurabaya, Rabu (20/9).

“Dari penyelenggraan kegiatan workshop ini bisa dikembangkan sebagai sebuah public policy. Hal ini untuk menjadi masukan dalam pembuatan kebijakan”. Terang Sulikhah.

Menurut Abdurrahmn Hamas Nahdly, Kepala Divisi Program Siberkreasi, kesiapan dalam menghadapi era digital harus menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk bagi pemerintah maupun masyarakat. Termasuk bagi penyandang difabel yang sejauh ini masih terpinggirkan.

“Gerakan literasi digital inklusi difabel adalah wujud kehadiran pemerintah dalam memastikan hak-hak difabel, yakni akses literasi sektor digital. Organisasi, masyarakat, terutama difabel harus memantau dan mengawal setiap kebijakan pemerintah. Tidak hanya terkait sektor literasi digital, tapi semuanya”, terang Hamas.

Sementara itu, Mukhanif Yasin Yusup, Direktur Difapedia dalam sambutannya menegaskan bahwa acara yang merupakan kerjasama Difapedia, Siberkreasi, Kominfo dan FISIP Unair merupakan bagian dari upaya menyiapkan SDM difabel yang menguasai sektor digital.

“Nantinya diharapkan teman-teman difabel dapat mengisi wadah infrastuktur digital yang sedang dibangun difapedia. Dengan pendekatan inklusif, yakni melibatkan difabel dan non-difabel”, lanjut Hanif, panggilan akrabnya.
Hanif yang merupakan Difabel Rungu, sekaligus founder Difapedia ini menegaskan bahwa Surabaya merupakan kota keempat setelah Yogyakarta, Jakarta dan Semarang.

“Antusiasnya sangat luar biasa. Total penyelenggaraan di empat kota melebihi target, yakni 426 peserta. 81% diantranya adalah difabel”, kata Hanif.
Sementara itu, acara yang diikuti oleh 115 peserta dari Surabaya, Sidoarjo, Kediri, Malang, dan sekitarnya ini selain dari Abdurrahman Hamas Nahdly juga menghadirkan Yuniar Ulfa Rokhima selaku Kontent Kreator Specialist dan Riza Noerinda Lubis selaku Marketplace Specialits.

Selain terkait etika penggunaan media digital dari Abdurrahman Hamas Nahdly, Yuniar Ulfa Rokhima berbagi pengalaman terkait pembuatan kontent, baik untuk branding diri maupun sektor UMKM bagi Disabilitas.

“Pemanfaatan media digital, baik media sosial maupun marketplace, sudah menjadi keniscayaan. Teman-teman pelaku UMKM, termasuk difabel, harus bisa memanfaatkannya” terang Riza Lubis, pemateri yang juga pelaku UMKM di Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *