Wes semestine ati iki nelongso
Wong sing tak tresnani mblenjani janji
Opo ora eling naliko semono
Kebak kembang wangi jeroning dodoke
Kepiye meneh iki iki pancen nasibku
Kudu nandang loro koyo mengkene
Remuk ati iki yen eling janjine

Sebagai manusia, si Hapin bin Udin langsung merenung selama beberapa hari di dalam kamar. Penyebabnya sepele, tapi karena ini persoalan hati masalahnya merembet kemana-mana. Hilanglah nafsu makan. Skripsi yang tinggal bab tekahir pun ditinggalkan. Sampai emaknya menyuruh pulang sementara untuk menenangkan keadaan. Demi menghibur diri, diputarlah lagu di atas berkali-kali.

Ditinggal Wati binti Jayadi yang kabur ke lain hati, benar-benar mengantarkannya pada penderitaan yang bertubi-tubi. Janji dari Wati hanya sebatas janji. Kata-kata sebatas terucap, bukan dibuktikan dengan laku tindakan. Ambyarr, ndesss. Benar-benar ambyaarrr..

 Betapa tidak ambyar meresapi kata demi kata dari lirik lagu di atas. Terlebih ketika dinyanyikan sang maestro. Sang Bapak Patah Hati, The Father of Brokern Heart, Babang Didi Kempot.. Nelongso atiku, reekk…

Meskipun kita percaya bahwa masing-masing manusia memiliki tantangan masing-masing, adalah keniscayaan bahwa difabel juga mengalami nasib yang ambyar. Bukan bermaksud membandingkan, tapi berusaha mempertegas bahwa ketika hatimu ambyar, juga ada orang lain yang selama ini hidupnya masih ambyar, yakni difabel. Jadi, jangan merasa sendiri, reeek. Kita ini sama-sama ambyarr..

Difabel seringkali Dikhianati Janji-Janji Politik dan Kebijakan

Siapapun pasti akan sakit hati jika seseorang yang sudah kita taruh kepercayaan tiba-tiba mengabaikan janji. Padahal kita sudah memberikan sepenuh hati. Apakah kita layak mendapatkan ini, rek?

Difabel pun demikian. Seringkali janji manis dalam politik tak tertunaikan. Ia sebatas komoditas. Tidak sampai berhenti di situ, kebijakan yang dibuat pun terkadang senatas formalitas. Ia hanya tertunaikan dalam lembaran kertas. Misalnya kewajiban tentang tenaga kerja di pemerintah dan BUMN yang wajib 2% bagai difabel. Sampai saat ini belum tertunaikan…

Meskipun Janji terealisasi, seringkali kebijakan yang dibuat tidak melibatkan difabel

Meski demikian, tidak semuanya janji tekianati. Ada beberapa kebijakan yang dilahirkan untuk mengakomodir difabel. Akan tetapi, tidak jarang keterlibatan difabel di dalamnya sangat minim..

Ketika Kebijakan yang dibuat tidak melibatkan difabel, seringkali kontraproduktif

Efek dari keterlibatan difabel yang minim menjadikan kebijakan yang dibuat sekadar asumsi. Hal ini menyebabkan kebijakan yang dibuat kontraproduktif. Ia bertentangan dengan kebutuhan dan realitas difabel di lapangan. Misalnya, dalam rektrutmen CPNS. Sekalipun sudah menyediakan kuota bagi difabel, pada kenyataanya tidak terbuka terhadap semua ragam disabilitas.

Pada akhirnya, Difabel pun Harus tetap Berjuang agar tetap bertahan

Mau bagaimanapun, ketika ia melabuhkan pada hati yang lain, kita dituntut untuk bisa move on. Sesama kaum ambyar harus saling menguatkan, kan?

Buktikan pada alam semesta, bahwa pengkhianatan itu pasti selalu ada. Akan tetapi, kita adalah manusia yang kuat dalam menjalaninya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *