Awal 2021 masih dibayangi situasi pandemi Covid-19. Saat ini pun muncul Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali sesuai intruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 01 tahun 2021 yang esensinya mirip dengan PSBB, terhitung tanggal 11 hingga 25 Januari mendatang. Istilah new normal memang memberikan efek placebo. So, kita semakin dituntut hidup berdampingan dengan ketidakpastian.

Mau nggak mau kita dipaksa berdamai dengan keadaan. Meskipun nantinya akan terbiasa, apakah dapat menjamin kestabilan mental?

1. Pandemi memiliki dampak psikologis yang berpeluang menyebabkan gangguan mental

Pandemi belum berakhir, guys.. ( via www.suara.com )

Pandemi menimbulkan perubahan dalam banyak hal, termasuk psikologis manusia. Sebuah riset kesehatan mental yang dilakukan oleh PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) terhadap 1552 responden menunjukkan bahwa 63% responden mengalami cemas. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut mempengaruhi kesehatan mental, terutama menimbulkan tekanan emosional yang cukup serius. Lantas bagaimana strategi yang bisa dilakukan untuk tetap menjaga kesehatan mental di tengah situasi pandemik?

2. Batasi dari informasi sosial media yang membuat cemas

Selektif memilih informasi di media sosial ( via www.alodokter.com )


Kita bisa mulai memilah dan memilih jenis konten media sosial seperti youtube, Instagram, twitter, facebook, maupun berita-berita dari laman online yang sekiranya lebih banyak memberikan impact positif. Khusus untuk jenis berita, kita perlu memahami jenis berita hoax dan yang terpercaya. Era disruptif dibanjiri bermacam informasi dari berbagai sumber. Hal ini mendorong kita untuk lebih hati-hati dan bijak. Kedua sikap ini sangat diperlukan untuk tetap menjaga kewarasan berpikir dan kestabilan mental.

3. Menjaga nutrisi tubuh

Menjaga nutrisi tubuh dengan tetap mematuhi prokes ( via www.kompas.com )


Pastikan kita tetap memenuhi kebuhan dasar fisiologis. Nutrisi tubuh tetap harus diperhatikan untuk menjaga imunitas tubuh. Berkaitan dengan penjelasan sebelumnya, kecemasan berlebih juga berdampak pada menurunnya imun tubuh karena kadar hormon norepinephrin menjadi lebih banyak. Pemenuhan nutrisi selama pandemi juga berfungsi sebagai bahan bakar utama dalam melakukan aktivitas. Perubahan pola aktivitas offline menjadi online ternyata membutuhkan energi yang lebih besar karena rawan terjadi daring fatigue.


4. Menciptakan suasana yang nyaman untuk diri sendiri

Menciptakan suasana nyaman untuk diri sendiri ( via www.zonautara.com )

Sejak pandemi datang, keberadaan kaum rebahan naik secara signifikan, lho. Kita menjadi memiliki banyak waktu luang. Kita juga lebih banyak menghabiskan aktivitas online. Kondisi ini seringkali memunculkan rasa bosan. Terlebih kemonotonan aktivitas juga rawan menimbulkan stress. Upaya yang bisa dilakukan adalah mengatur lingkungan kita menjadi sebuah tempat yang nyaman dan aman untuk beraktivitas. Setting lingkungan yang dimaksud nggak hanya bersifat fisik (tata letak ruangan, hiasan atau aksesoris,dan sejenisnya), tetapi juga lingkungan non-fisik. Hubungan kita dengan orang -orang di sekitar kita juga perlu dibangun. Masa pandemi dapat dijadikan sebagai momentum kumpul bersama dan meningkatkan attachment anggota keluarga.

Pandemi nggak bisa kita kontrol, tetapi ekspresi perilaku dan cara kita menyikapinya bisa dikontrol. Meski nggak mudah, yuk terus mengupayakan kondisi kesehatan mental yang baik!

Rizqi Karomatul Khoiroh, S.Psi., Alumnus Psikologi UGM, Mahasiswi Magister Psikologi UGM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *